2018-05-20

Progres yang Tampak Seperti Ilusi

manchester united
Marcus Rashford tertunduk lesu usai Manchester United kalah dari Chelsea di final Piala FA.

Manchester United resmi mengakhiri musim 2017/2018 tanpa satupun gelar di tangan. Setan Merah kehilangan kans terakhir untuk meraih trofi di ajang Piala FA usai kalah dari Chelsea dalam partai puncak dengan skor tipis 1-0, Sabtu (19/5/2018) malam WIB. Kekalahan ini sungguh tak bisa diterima jika melihat statistik United yang begitu mendominasi sepanjang pertandingan. Lebih banyak menguasai bola, lebih banyak menciptakan peluang, namun hasilnya nihil. Tak ada gol yang berhasil diciptakan pasukan Jose Mourinho selama 90 menit lebih pertandingan.

Kecolongan penalti di menit ke-22, yang kemudian bisa dikonversi menjadi gol oleh Eden Hazard pastinya menjadi blunder yang sangat disesali Manchester United pada pertandingan tersebut. Namun terlepas dari itu, sejak awal United memang tampak kebingungan untuk membangun serangan dan menciptakan peluang. Tidak adanya target man di depan membuat serangan MU sering tak berujung. Bahkan seringkali Chelsea berhasil melancarkan serangan balik memanfaatkan kesalahan pemain MU saat tengah berupaya membangun serangan.

Romelu Lukaku baru dimainkan di menit ke-73 menggantikan Marcus Rashford, yang berkali-kali gagal memaksimalkan peluang. Masuknya Lukaku bersama Anthony Martial sejatinya cukup membuat lini depan MU makin hidup. Hanya saja Lukaku kesulitan untuk beradaptasi cepat dengan situasi di lapangan. Menurut catatan SofaScore, Lukaku hanya melakukan dua kali operan akurat dan tiga kali duel (dua sukses) selama 17 menit bermain.

Usai pertandingan, para penggawa United pun hanya menjadi penonton pesta juara Chelsea di Wembley. Nirgelar musim ini adalah yang pertama kali di era Jose Mourinho atau yang kedua kali pasca Sir Alex Ferguson pensiun.

manchester united
Jose Mourinho menenangkan para pemainnya.

Progres Dibanding Musim Lalu


Sejak awal banyak yang menduga bahwa persaingan gelar juara Premier League 2017/2018 akan menjadi milik Manchester United dan Manchester City. Faktanya, kedua kesebelasan memang bersaing di posisi pertama dan kedua dari awal hingga akhir musim. Tetapi United tertatih-tatih di pertengahan dan harus merelakan gelar juara kepada ‘Si Tetangga Berisik’ dengan jarak 19 poin sampai dengan pekan ke-38.

Walau demikian, pencapaian di Premier League musim ini adalah yang terbaik di era setelah Sir Alex jika dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya. Pada 2013/2014, MU finis ketujuh bersama David Moyes, lalu berhasil kembali ke empat besar di bawah kepemimpinan Louis van Gaal pada 2014/2015, namun turun peringkat lagi dalam dua musim berturut-turut yakni kelima di musim 2015/2016 (Van Gaal) dan keenam di musim 2016/2017 (Jose Mourinho).

Khusus di era baru bersama The Special One selama dua tahun belakangan, peningkatan di ajang liga memang terlihat cukup nyata. Musim ini United bisa berada di peringkat yang lebih baik, poin yang diraih pun lebih banyak, jumlah kemenangannya lebih banyak, jumlah golnya lebih banyak, dan jumlah kebobolannya lebih sedikit. Perbedaan yang berbanding terbalik ada dari hasil imbang dan kekalahan. The Red Devils meraih lebih sedikit hasil imbang di 2017/2018, tetapi menelan kekalahan lebih banyak dari musim lalu.


manchester united
Klasemen akhir Premier League 2017/2018.

Ironinya, MU sering kehilangan momentum di masa-masa yang penting. Hal itulah yang membuat MU gagal mengejar ketertinggalan poin dari City dan justru makin melebar tiap pekannya. Yang paling menjadi ‘aib’ adalah kalah dari tiga tim promosi di tiga laga tandang dan dari satu tim juru kunci. Tiga tim promosi, Huddersfield Town, Newcastle United dan Brighton & Hove Albion masing-masing berhasil mengalahkan Paul Pogba dan kolega di kandang. Sialnya, kekalahan itu datang di momen yang tidak tepat.

Puncaknya adalah ketika MU ‘menghadiahi’ gelar juara Premier League kepada City usai dipermalukan West Bromwich Albion di Old Trafford dengan skor 1-0 di pekan ke-34 pertengahan April lalu. Ini adalah kali pertama MU kalah dari tim yang mengawali pertandingan di posisi juru kunci klasemen. Padahal pada pekan sebelumnya, MU baru saja merasakan euforia usai mengalahkan City di Etihad Stadium (2-3) untuk menunda pesta juara tim asuhan Pep Guardiola.

Di sisi lain, beberapa hasil imbang musim ini pun disebut-sebut menjadi penyebab gagalnya MU bersaing memperebutkan juara liga.


Harapan Kosong Setelah Menghabiskan Rp 2,1 Triliun


Pada musim panas 2017, total dana yang dihabiskan Manchester United untuk mendatangkan pemain baru mencapai 147,96 juta pound atau sekitar Rp 2,1 triliun. Setan Merah mendatangkan pemain-pemain seperti Victor Lindelof, Romelu Lukaku dan Nemanja Matic untuk melengkapi skuat yang sudah ada. Ditambah lagi MU mendatangkan Alexis Sanchez dari Arsenal di bursa transfer Januari 2018, yang merupakan hasil pertukaran dengan Henrikh Mkhitaryan.

Dari segi gaji, United juga terbilang paling boros di Premier League. Sayangnya, dana besar-besaran yang mereka investasikan tidak sepenuhnya bisa memenuhi harapan dan memuaskan hasrat para fans dengan tidak meraih hasil apapun di musim ini.

Melakoni beberapa laga pramusim dengan mengesankan, fans United sangat berharap di musim 2017/2018 ini tim kesayangan mereka bisa mendapatkan hasil yang lebih baik. Kompetisi resmi pertama Setan Merah adalah Piala Super Eropa kontra Real Madrid. Namun pasukan Jose Mourinho kalah 1-2 di laga tersebut.

Di beberapa pertandingan awal Premier League, MU sebenarnya tampil impresif. Sebelum akhirnya mereka mulai terseok-seok di pertengahan musim dan kehilangan daya untuk mengejar gelar juara. MU berhasil finis di peringkat kedua, tetapi jarak mereka dengan City--yang keluar sebagai juara--di akhir musim adalah 19 poin. Padahal, musim lalu MU ‘hanya’ tertinggal 9 poin dari The Citizens.

manchester united
Manchester United vs Sevilla di leg kedua babak 16 besar Liga Champions 2017/2018.

Harapan untuk meraih sesuatu sebenarnya juga muncul di ajang Liga Champions. Manchester United mengakhiri fase grup sebagai juara grup dan bertemu dengan Sevilla di 16 besar. Namun, lagi-lagi fans dibuat patah hati dengan hasil akhirnya. Usai menahan imbang 0-0 Los Rojiblancos di Ramon Sanchez Pizjuan, United malah dipermalukan 1-2 saat bermain di Old Trafford.

Hal lain yang juga mengecewakan adalah perjalanan MU di Piala Liga Inggris. Mengawali dengan baik juga, tetapi semuanya antiklimaks lantaran sang raksasa ditaklukkan oleh tim kasta kedua, Bristol City di babak perempat final. Gol terakhir Zlatan Ibrahimovic untuk United tak mampu membawa sang juara bertahan kembali tampil di partai puncak. Bristol mengalahkan MU secara dramatis dan menyakitkan lewat gol di menit injury time.

Peluang juara terakhir dan yang paling nyata adalah di Piala FA. MU tak tersentuh sejak awal perjalanan mereka di ajang ini. Mereka juga berhasil mengalahkan Tottenham Hotspur di laga semifinal yang ketat dengan skor 1-2. Petaka mulai datang ketika beberapa pemain dibekap cedera menjelang final. Romelu Lukaku mengalami cedera di kakinya saat melawan Arsenal di Old Trafford akhir April lalu dan harus absen pada tiga laga terakhir Premier League. Marouane Fellaini juga menyusul ke ruang perawatan beberapa hari jelang laga final.

manchester united
Romelu Lukaku mengalami cedera saat melawan Arsenal di pekan ke-35.

Absennya Lukaku menjadi yang paling krusial bagi MU. Sebab baik Marcus Rashford maupun Martial seolah tidak mampu menggantikan peran Lukaku sebagai penyerang tengah, yang juga diplot sebagai target man. Dalam konferensi pers pasca laga melawan Brighton (MU kalah 1-0), Mourinho mengakui bahwa penampilan striker pelapis MU memang tak begitu mumpuni. Itulah alasan mengapa selama ini Mourinho jarang mengistirahatkan Lukaku.

Menatap Musim Baru


Pertanyaannya, apakah ada progres yang ditunjukkan tim asuhan Mourinho musim ini dibandingkan dengan musim lalu? Tentu saja ada. Seperti yang sudah disebutkan tadi, dalam beberapa hal MU mulai membaik di musim ini. Tetapi masih banyak potensi yang belum dimaksimalkan di berbagai sisi. Cara bermain United pun sepertinya tak terlalu banyak berubah dari musim lalu. Sering membuang peluang yang akhirnya hanya membuahkan hasil imbang atau kekalahan adalah hal yang harus segera diperbaiki.

Yang paling mencolok adalah dalam perolehan trofi. Musim lalu MU mungkin memang hanya finis di posisi keenam di liga, tetapi Paul Pogba dkk mendapatkan tiga trofi penting yaitu Community Shield, Piala Liga Inggris dan Liga Europa. Perbedaan perolehan trofi yang sangat jomplang dengan musim inilah yang membuat progres—yang seharusnya tampak nyata—hanya terlihat seperti ilusi bagi Manchester United.

manchester united

Sekarang tugas bagi Mourinho adalah mempersiapkan dan mengasah tim untuk jadi lebih siap lagi musim depan. Bukan hanya sekadar untuk memperebutkan zona Liga Champions, melainkan untuk selalu menang di tiap laga dan memenangkan trofi. Para fans tentu berharap ilusi progresi ini segera menjadi kejayaan yang nyata buat Manchester yang terkenal itu.
Read more

2018-05-17

Fakta di Balik Karier Cemerlang Michael Carrick

fakta michael carrick

Michael Carrick baru saja melakoni laga terakhirnya di Old Trafford sebagai pemain Manchester United, Minggu (13/5/2018) malam WIB. Dalam pertandingan melawan Watford, yang sekaligus menjadi laga penutup MU di Premier League musim 2017/18, Carrick bermain selama 85 menit sebelum ditarik keluar dan digantikan oleh Paul Pogba. Itu menjadi satu-satunya pertandingan Premier League yang dilakoni Carrick musim ini.

Usai pertandingan, Carrick menyampaikan kata-kata perpisahan dan ucapan terima kasihnya kepada seluruh elemen Manchester United yang telah menjadi bagian dalam hidupnya selama 12 tahun terakhir. Bukan untuk pergi atau hijrah ke klub lain, melainkan sebagai penutup lembaran kariernya sebagai pemain sepakbola profesional, setelah sebelumnya Carrick mengumumkan keputusannya untuk gantung sepatu di akhir musim ini.

Sejak didatangkan ke Old Trafford pada tahun 2006 senilai 18,6 juta pound dari Tottenham Hotspur, Carrick memegang peranan penting di lini tengah United dan selalu konsisten meski tandemnya seringkali berganti di tiap-tiap musim. Hingga pertandingan melawan Watford akhir pekan lalu, total Carrick sudah memainkan 464 laga kompetitif bersama United. Selama itu pula pria kelahiran 28 Juli 1981 mengumpulkan 18 trofi bergengsi dan koleksi 24 gol.

Kini perjalanan panjangnya sebagai gelandang andalan Setan Merah telah sampai di penghujung jalan. Meski telah memberi tanda untuk tetap bertahan di klub dengan peran lainnya, yakni sebagai staf kepelatihan, namun para fans Manchester United pasti akan selalu merindukan elegansi permainan si Mr Consistency.

Di balik kesuksesannya bersama Manchester United, Michael Carrick juga telah melewati berbagai rintangan dalam kehidupan pribadinya maupun karier profesionalnya. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa fakta tentang Michael Carrick.



Foto:
www.shoot.co.uk
www.dailymail.co.uk
www.squawka.com
Read more

2018-04-23

INDECKTION is Coming!


Tahun 2014 saya menemukan sebuah ide permainan sulap. Ide itu muncul begitu saja dan sulit menghilang dari pikiran. Itu pula yang sempat membuat saya tidak bisa tidur selama beberapa malam, karena memikirkan metode apa yang bisa mewujudkan ide tersebut. Pada prosesnya, saya pun mulai menemukan metode dan nama yang cocok untuk menginterpretasikan permainan tersebut, yaitu INDECKTION.

Sampai dengan pertengahan tahun 2015, saya masih menggunakan metode yang saya temukan pertama kali sambil terus mengembangkannya. Kemudian saya sempat membiarkan INDECKTION hanya menjadi draft selama sekitar satu setengah tahun. Hingga pada penghujung tahun 2017, saya terpikirkan sebuah metode baru untuk menciptakan efek yang lebih bagus dengan gagasan yang sama.

Ide Permainan dan Efek


INDECKTION adalah akronim dari tiga buah kata dalam bahasa Inggris yaitu IN-DECK-PREDICTION. Efek yang dihasilkan pun sesuai dengan tajuk permainannya, prediksi di dalam dek kartu.

INDECKTION terinspirasi dari salah satu teknik forcing bernama magician choice atau equivocation. Ini adalah teknik forcing serbaguna yang bisa diterapkan dengan berbagai media, bahkan dalam jumlah yang banyak. Sedangkan dalam penerapannya dengan kartu remi, biasanya pesulap ‘memaksa’ penonton untuk memilih sebuah kartu melalui beberapa tahapan eliminasi mulai dari warna, lambang hingga nilai kartunya.

Bedanya, dalam permainan ini Anda tidak perlu melakukan forcing. Penonton bebas memilih, lalu penonton pula yang membuka sendiri kartu pilihannya dari tumpukan kartu. Selain itu permainan ini juga fleksibel karena tidak hanya terpaku pada satu jenis presentasi saja. Anda bisa mengembangkan presentasinya dengan gaya dan cerita Anda sendiri.

Ide permainannya sederhana, pesulap mengubah plot dalam permainan sulap kartu dimana biasanya penonton yang memilih sebuah kartu dari tumpukan lalu pesulap menebak kartu pilihan penonton. Tetapi dalam permainan ini penonton yang diminta untuk menebak sebuah kartu pilihan pesulap.

Efeknya, sebelum bertemu dengan penonton, pesulap telah memilih satu kartu dan menyimpannya di dalam tumpukan. Penonton lalu diminta untuk menebak kartu apa yang dipilih pesulap. Setelah melewati beberapa tahap pemilihan yang BEBAS tanpa paksaan, mulai dari warna, lambang dan nilai kartunya, penonton pun berhasil menebak kartu apa yang dipilih pesulap sekaligus menebak dimana letaknya di dalam tumpukan kartu.


Tingkat Kesulitan: 6.5/10


Tingkat kesulitan 6.5/10 berarti tidak terlalu sulit. Saya bisa katakan permainan ini ada di level menengah. Tidak ada kecepatan tangan yang perlu Anda lakukan, tetapi Anda harus cermat dalam mempresentasikan INDECKTION.


Sampul depan dan belakang buku INDECKTION.


Setelah MATH-TRICK DECK di tahun 2015, ini menjadi salah satu karya yang sangat saya banggakan dalam dunia invensi sulap dan semoga bisa menjadi sumbangsih positif untuk sulap di Indonesia. Transkrip penjelasan INDECKTION saat ini hanya saya publikasikan dalam bentuk buku digital (e-book), namun tidak menutup kemungkinan akan saya produksi dalam bentuk cetak ke depannya.

Saya berharap banyak pencinta sulap yang mengapresiasi karya saya ini, lebih-lebih juga bisa menginspirasi teman-teman pesulap lain untuk menyumbangkan karyanya. Bukan hanya dalam bentuk invensi, tetapi juga hal-hal lain yang masih mencakup dunia sulap.

Jika Anda tertarik untuk mempelajari permainan INDECKTION, Anda bisa langsung menghubungi saya atau toko MINDSTORE.
Read more

2018-04-03

Captain Tsubasa 2018: Menuju Piala Dunia Rusia!

captain tsubasa 2018

Penantian panjang para penggemar anime “Captain Tsubasa” akhirnya terjawab sudah. Bukan hanya kalangan anak-anak—yang baru mengenal sosok Tsubasa kemarin sore—tetapi juga mereka yang kini mungkin sudah beranjak dewasa. Bagaimana tidak, seri terakhir Captain Tsubasa dengan tajuk “Road to 2002” muncul pada rentang Oktober 2001 hingga Oktober 2002 silam. Setelah kurang lebih 16 tahun absen menghibur para penggemarnya, akhirnya pada 2018 ini Ozora Tsubasa dan kawan-kawan kembali dengan membawa cerita yang baru.

Disutradarai oleh Toshiyuki Kato dan digarap oleh studio David Production, anime yang diadaptasi dari manga karya Yoichi Takahashi ini hadir dengan tampilan grafis yang lebih segar dan kekinian. Episode perdananya sendiri telah mulai tayang di layar kaca Jepang pada 2 dan 3 April 2018. TV Tokyo menjadi salah satu penyiar resmi seri terbaru Captain Tsubasa, yang nantinya terdiri dari dua musim, dengan masing-masing musim memiliki 26 episode.

Dalam episode perdana, terlihat bahwa ada elemen-elemen baru masa kini. Captain Ozora—ayah Tsubasa—tidak sudah menggunakan ponsel sebagai alat komunikasi dengan keluarganya di Jepang saat ia sedang bertugas sebagai kapten kapal.

Jika Road to 2002 mengisahkan perjalanan Tsubasa dan tim nasional Jepang menuju gelaran Piala Dunia 2002 yang berlangsung di Korea Selatan dan Jepang, Captain Tsubasa 2018 ternyata juga akan mengisahkan perjalanan Tsubasa dan teman-temannya membawa tim nasional Jepang ke Piala Dunia 2018 di Rusia.

Musim pertama Captain Tsubasa 2018 mengangkat lagi cerita pada seri Kids’ Dream (1983), mengombinasikan cerita orisinal dari manga dan elemen di era modern. Baru di musim kedua kabarnya akan ada cerita baru yang disuguhkan, di mana Tsubasa memimpin tim nasional Jepang bersaing di pentas Piala Dunia menghadapi lawan-lawan yang kuat. Beberapa pesepakbola ternama dunia pun kabarnya akan muncul dalam anime ini seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Sinopsis Captain Tsubasa 2018 Episode 1


Episode 1 Captain Tsubasa 2018 menceritakan kisah anak dengan penuh semangat bernama Ozora Tsubasa (11 tahun) yang telah mulai bermain sepakbola sejak kecil. Awalnya, sepakbola hanya menjadi olahraga favoritnya saja, namun hal itu makin berkembang menjadi mimpi besar yang ingin diwujudkannya kelak.

Untuk mewujudkan mimpi menjadi pemain sepakbola terbaik, Tsubasa pindah bersama ibunya ke kota Nankatsu, tempat yang dikenal sebagai basis dari beberapa tim sepakbola sekolah dasar terbaik. Ia pun bertemu dengan Ryo Ishizaki, anggota tim sepakbola SD Nankatsu, yang kemudian menjadi temannya. Tsubasa juga sangat terkagum-kagum saat pertama kali melihat penjaga gawang berbakat Genzo Wakabayashi dan langsung ingin menantangnya.

Selain itu di episode perdana juga muncul beberapa karakter utama lain seperti Roberto Hongo, Mikami (pelatih Wakabayashi) dan beberapa anggota kesebelasan Shutetsu, yang dikapteni oleh Wakabayashi. Di situlah Tsubasa mulai menunjukkan bakat alaminya dalam mengolah si kulit bundar dan membuat orang-orang di sekitarnya berdecak kagum.

Penasaran dengan cerita selengkapnya? Download episode 1  Captain Tsubasa 2018 di link berikut ini.


Fakta Unik Captain Tsubasa 2018

  • Captain Tsubasa 2018 menggunakan lagu pembuka baru berjudul Start Dash! Dari Johnny’s WEST.
  • Pada teaser ketiga sebelum dirilisnya episode pertama, Tsubasa tampak sedang latih tanding dengan SD Nishigaoka dengan mengenakan seragam yang mirip dengan seragam SMP Nankatsu pada anime Captain Tsubasa 1983 (Fight Boys), yaitu putih dengan garis merah.
  • Pada teaser yang sama terungkap bahwa mentor sekaligus pelatih Tsubasa, Roberto Hongo, mengenakan seragam dengan nomor 10 untuk tim nasional Brasil di puncak kariernya.
Read more

Komik Sepakbola “Menembus Jantung Pertahanan”

komik menembus jantung pertahanan

Anak-anak generasi 90-an tentu sangat akrab dengan manga dan anime Captain Tsubasa. Kisah ini begitu digilai anak-anak pada zaman itu (sampai sekarang), hingga membuat mereka mencintai sepakbola. Bahkan legenda hidup sepakbola Prancis, Zinedine Zidane, mengakui bahwa ia ternyata juga menyukai Captain Tsubasa. Kisah perjalanan Ozora Tsubasa dan kawan-kawan pula yang telah menginspirasi para pesepakbola Jepang untuk benar-benar membawa kesebelasan Negeri Matahari Terbit tampil di ajang Piala Dunia.

Akan luar biasa pastinya kalau hal tersebut juga dialami oleh tim nasional sepakbola Indonesia. Terinspirasi dari tokoh komik, lalu mulai menyukai sepakbola, hingga akhirnya menjadi pesepakbola profesional dan membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia. Narasi yang sangat indah, bukan? Namun bukan tokoh Captain Tsubasa yang akan menjadi inspirasi mereka, melainkan tokoh bernama Sakti, Senopati dan Ciko dari komik sepakbola berjudul “Menembus Jantung Pertahanan.”

Ya, ini merupakan sebuah komik karya anak bangsa yang mengusung tema sepakbola. Sama seperti Captain Tsubasa, namun ceritanya dibuat sesuai lingkungan dan kebiasaan orang-orang Indonesia.

Menembus Jantung Pertahanan


Tokoh Sakti adalah anak kelas 1 SMP penggila sepakbola yang ada di gambar sampul buku volume 1. Dia menyukai nomor punggung 20, mungkin terinspirasi dari eks penyerang timnas Indonesia, Bambang Pamungkas. Sakti adalah anak angkat dari mantan pesepakbola profesional bernama Surya Purnawarman, yang sekaligus menjadi pelatih di SSB Balebunder, tempat di mana Sakti berlatih dan bermain.

komik menembus jantung pertahanan

SSB Balebunder juga memiliki dua pemain jagoan dengan ego tinggi, yaitu Senopati dan Ciko. Ketiganya—Sakti, Senopati dan Ciko—sama-sama bermimpi untuk menjadi pesepakbola terbaik dan memenangkan kejuaraan nasional.

Saat SSB Balebunder mendapat undangan untuk mengikuti turnamen nasional U-16, kesempatan ini pun tidak dilewatkan oleh pelatih Surya agar anak-anak didiknya bisa menggapai mimpi mereka untuk menjadi juara. Namun, berbagai rintangan telah menanti di depan, termasuk adanya salah satu kesebelasan kuat yang menjadi langganan juara turnamen, Sebelas Rajawali.

Sangat seru, bukan? Namun sayangnya, komik Menembus Jantung Pertahanan baru mengeluarkan dua volume saja. Volume pertama, menceritakan tentang perkenalan tokoh-tokoh utama, siapa saja mereka dan bagaimana sifatnya. Lalu di volume kedua, mulai diceritakan bagaimana SSB Balebunder membentuk tim dan mengikuti turnamen nasional.

Jika dilihat dari alur ceritanya, pembuat komik menekankan pentingnya kompetisi di tingkatan usia muda dalam sepakbola Indonesia. Di mana saat ini induk organisasi sepakbola nasional memang tengah mengembangkan pendidikan sepakbola usia muda. Keberadaan SSB (Sekolah Sepak Bola) pun memiliki peran krusial bagi anak-anak sebagai tempat bertumbuh dan mengembangkan bakat sepakbola mereka hingga menuju jenjang profesional kelak.

Ide cerita yang layak diapresiasi dari pembuat komiknya. Semoga ke depannya komik Menembus Jantung Pertahanan bisa menginspirasi anak-anak Indonesia seperti halnya komik Captain Tsubasa.

Kapan Volume 3 Terbit?


Menurut info terbaru yang dibagikan melalui akun Instagram @komikmjp, Menembus Jantung Pertahanan volume 3 tengah dalam proses pengerjaan dan kemungkinan akan segera terbit dalam waktu dekat di tahun 2018. Dalam bocoran gambar sampulnya juga ada satu nama baru—Mochammad Fadli—yang sepertinya ikut menggarap komik ini.


Dapatkah SSB Balebunder menaklukkan lawan-lawannya di turnamen nasional? Akan seperti apa pertarungan sengit saat Sakti dan kawan-kawan saat bertemu dengan kesebelasan Sebelas Rajawali? Menarik untuk ditunggu bagaimana kelanjutan kisah di komik garapan Juan Vito, Salman Kuntjoro Jakti dan Mochammad Fadli ini.

Komik Menembus Jantung Pertahanan volume 1 dan 2 dapat dibeli di sini.
Read more

2018-02-10

Kumpulan Lagu Tentang Manchester United untuk Bangkitkan Semangat

lagu tentang manchester united

Bagi para fans Manchester United, seperti saya, alunan lagu bertajuk “Glory Glory Man United” tentu sudah tak asing lagi di telinga. Para pendukung The Red Devils, baik yang hadir langsung ke stadion maupun hanya sekadar menonton lewat tayangan televisi selalu menyanyikan lagu tentang Manchester United itu untuk mendukung para pemain di lapangan.

Lagu tersebut pun menjadi salah satu favorit saya untuk didengarkan setiap hari. Tetapi tahukah Anda bahwa selain “Glory Glory Man United”, ternyata masih banyak lagu-lagu lain yang mengusung tema Manchester United? Beberapa di antaranya sengaja dibuat oleh para fans sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap The Red Devils. Bahkan Ada pula lagu yang memang diciptakan khusus sebagai lagu resmi United.

Nah, untuk Anda pendukung setia klub Setan Merah, saya punya beberapa rekomendasi lagu tentang Manchester United yang bisa didengarkan saat waktu luang dan tentunya agar lebih mencintai klub ini.

Daftar Lagu Tentang Manchester United


1. Glory Glory Man United


Ini lagu yang saya bahas di awal tadi dan memang sudah menjadi anthem bagi publik The Red Devils. Adapun single asli “Glory Glory Man United” pertama kali dirilis oleh Manchester United jelang final Piala FA 1983, yang mana versi asli lagu ini ditulis oleh Frank Renshaw dan direkam di Strawberry Studios di Stockport. Penyanyinya adalah para pemain MU sendiri dan beberapa kerabat Renshaw, termasuk anaknya, Lee.

Jadi, lagu ini sudah dinyanyikan oleh para fans United sejak awal 1980-an dan memasuki tahun 1990-an lagu ini makin populer. Tetapi karena musiknya mengadaptasi dari lagu lain berjudul “The Battle Hymn of the Republic”, lagu “Glory Glory” ini juga akan terdengar familiar dengan beberapa lagu milik klub lain seperti Tottenham Hotspur, Leeds United dan South Sydney.

Di tahun 2007 lalu Will Robinson dan Michael Graves bersama dalam The World Red Army merilis versi penuh dari lagu “Glory Glory Man United”, yang akhirnya menjadi lagu resmi di Old Trafford.


2. The Manchester United Calypso


Kalau lagu yang satu ini sudah dirilis jauh sebelum “Glory Glory Man United” populer, bahkan sebelum tragedi kecelakaan pesawat yang menimpa The Busby Babes di Munich tahun 1958. Walaupun terkesan ‘jadul’, namun hingga kini lagu tersebut masih sangat disukai oleh para penggemar MU.

Lagu berjudul “The Manchester United Calypso” pertama kali direkam pada tahun 1955 (dirilis tahun 1957) oleh Edric Connor, seorang penyanyi Karibia kelahiran Trinidad, namun tinggal di London sejak 1944. Adapun ‘calypso’ sendiri adalah salah satu jenis musik khas masyarakat Kariba.

Lirik dalam lagu ini menceritakan bagaimana kekaguman seseorang kepada Manchester United-nya Matt Busby pada saat itu. Si penyanyi seolah mengatakan jika Anda ingin melihat permainan sepakbola terbaik, maka lihatlah Manchester United. Begini salah satu penggalan liriknya, “Whenever they’re playing in your town, you must get to that football ground. Take a lesson, come and see, football taught by Matt Busby.” Selengkapnya, dengarkan saja lagunya di bawah ini.


3. United Road (Take Me Home)


Ini juga salah satu favorit saya. Judulnya sempat ‘dipelesetkan’ saat MU lolos ke final Liga Europa musim 2016/17, menjadi “Take Me Holm”, karena pertandingannya berlangsung di Stockholm, Swedia.

"United Road (Take Me Home)" sangat populer di kalangan pendukung Manchester United. Musiknya diadaptasi dari lagu “Take Me Home, Country Roads” milik John Denver’s oleh Col Page. Selain “Glory Glory Man United”, Old Trafford juga sering memutar lagu ini. Sedangkan para pendukung MU biasanya hanya menyanyikan bagian chorus-nya saja.

Inspirasi lagu ini adalah nama jalan yang membentang di North Stand, Old Trafford, yakni United Road. Liriknya menceritakan tentang seorang fans yang rindu menyaksikan dan mendukung secara langsung para pemain Manchester United di stadion kebanggaan, The Theater of Dreams. Langsung saja dengarkan lagunya di bawah ini.


4. Come On You Reds


Lagu tentang Manchester United berikutnya adalah “Come On You Reds”, yang direkam dan dirilis secara resmi oleh Manchester United bersama grup rock Status Quo. Lagu ini pertama kali masuk UK Singles Chart pada 30 April 1994 dan mampu bertahan hingga 15 pekan, dengan sempat menduduki peringkat pertama selama dua minggu.

Baca Juga:


Menariknya, “Come On You Reds” ternyata menjadi satu-satunya lagu klub sepakbola yang mampu merebut posisi 1 di tangga lagu UK. Semua liriknya menceritakan tentang dukungan terhadap Manchester United. Sangat pas, karena lagu ini dirilis sekitar empat pekan sebelum final Piala FA 1994. “Come On You Reds” menjadi makin populer dan naik ke tangga lagu pertama setelah final tersebut, karena MU keluar sebagai pemenang.


5. United (We Love You)


Sekilas, bagian inti lagu ini mirip dengan chant yang sering diserukan para pendukung MU di stadion, “We love United, we do. Oh, United we love you.” Lagu berjudul “United (We Love You) dirilis setahun sebelum lagu “Come On You Reds”, yakni pada tahun 1993 oleh Manchester United. Namun prestasi terbaik lagu ini di UK Singles Chart hanya di posisi 37.

Tidak banyak informasi yang saya dapatkan tentang lagu ini, tapi liriknya benar-benar menggambarkan bahwa “Saya Cinta United”. Begini lagunya.


6. We’re Gonna Do It Again


Manchester United, sampai dengan 2017, telah mengoleksi 12 trofi Piala FA –yang terbanyak kedua setelah Arsenal (13)-. Nah, ternyata di tahun 90-an lalu MU selalu merilis lagu khusus jika mereka berhasil masuk ke final Piala FA. Setelah di tahun 1994 sukses menjuarai Piala FA dan membuat lagu “Come On You Reds” merajai tangga lagu di UK, setahun berikutnya MU kembali merilis lagu baru.

We’re Gonna Do It Again” menggambarkan keinginan MU untuk kembali menjuarai Piala FA di tahun 1995, setelah berhasil menembus final. Sayangnya saat itu MU kalah 1-0 dari Everton dan lagu ini hanya berhasil menduduki peringkat 6 di UK Singles Chart.


7. Move Move Move (The Red Tribe)


Belum puas karena gagal di final Piala FA 1995, MU kembali melaju ke final di tahun berikutnya. Nah, tepatnya pada 22 April 1996 dirilislah lagu berjudul “Move Move Move (The Red Tribe) oleh Manhcester United.

Setan Merah pun berhasil keluar sebagai juara lagi di tahun tersebut. Tempat terbaik lagu ini adalah di peringkat 6 UK Singles Chart, sempat menghilang, lalu masuk lagi ke chart di peringkat 50 tiga bulan kemudian. Kalau saya pribadi kurang suka dengan lagu yang satu ini, tapi lagu apapun yang bertemakan United tetap saya dengarkan.


8. Lift it High (All About Belief)


Hal apa yang paling enak dilakukan setelah berhasil merebut tiga gelar bergengsi sekaligus dalam semusim? Menyanyi? Mungkin itulah yang ada di benak para penggawa United setelah sukses meraih treble winners di tahun 1999.

Buat saya, ini menjadi salah satu lagu tentang Manchester United yang paling enak didengarkan. Apalagi kalau menonton video klipnya, di mana yang menyanyi adalah para bintang MU di masa itu. “Lift it High (All About Belief)" dirilis pada 17 Mei 1999, menyusul kesuksesan treble winners MU-nya Sir Alex Ferguson. Dinyanyikan oleh pemain-pemain seperti para anggota Class of ’92, Ole Solkjaer, Japp Stam, Michael Schmeicel, Dwight Yorke, dan kawan-kawan, lagu ini sempat mencapai peringkat ke-11, lho, dan bertahan selama tujuh minggu di UK Singles Chart.


9. Red Is The Man (Sir Alex Ferguson)


Berikutnya adalah lagu tentang sang manajer legendaris dan pujaan para pendukung United, Sir Alex Ferguson. Lagu ini dinyanyikan oleh The World Red Army featuring Fabrian Goroncy, diproduksi oleh Will Robinson dan Michael Graves. Liriknya ditulis oleh cukup banyak orang, tetapi yang jelas lagu “Red Is The Man” menceritakan tentang Sir Alex Ferguson dan bagaimana para fans MU begitu memujanya.

Liriknya sederhana, namun benar-benar membuat saya rindu pada masa kejayaan MU di era Sir Alex Ferguson.


10. Song for the Champions


Untuk menutup daftar lagu tentang Manchester United ini, saya pilih lagu berjudul “Song for the Champions”. Saya sendiri belum menemukan informasi valid mengenai siapa penulis lagunya dan siapa penyanyinya. Lagu ini seperti medley atau gabungan dari banyak chant tentang pemain dan dukungan untuk klub yang dinyanyikan oleh para fans.

Song for the Champions” didedikasikan pada gelar juara liga yang ke-19 untuk Manchester United pada tahun 2011 lalu. Di mana itu berarti United berhasil melewati rekor Liverpool dengan 18 gelarnya. Tidak heran kalau para pendukung The Red Devils begitu bahagia dan berjingkrak kegirangan sambil menyanyikan lagu ini. Tidak usah berlama-lama lagi, ini dia “Song for the Champions”.


Nah, itu tadi adalah kumpulan lagu tentang Manchester United yang sering saya dengarkan selama ini. Cocok untuk didengarkan saat MU menang ataupun kalah, karena bisa menambah semangat menjalani hari. Jika Anda ingin mendengarkan lebih banyak lagi lagu-lagu atau chant pendukung Manchester United, silakan kunjungi channel YouTube “The World Red Army”, di sana banyak lagu dan chant pendukung MU yang pastinya enak didengarkan. Sampai jumpa di artikel berikutnya!
Read more

2018-01-17

Para Pemain Berjuluk ‘Unsung Hero’ di Era Sepakbola Modern

unsung hero sepakbola

Jagat persepakbolaan dapat diibaratkan sebagai sebuah panggung yang dipenuhi bintang-bintang. Setiap nama mempunyai ketenarannya masing-masing untuk kemudian mendapatkan sorotan dari publik. Akan tetapi, bukan berarti hanya pemain berlabel bintang saja yang paling terampil dan selalu menjadi andalan bagi sebuah tim.

Buktinya, ada pemain-pemain -yang meskipun tidak berstatus sebagai pemain bintang- namun mempunyai peran krusial dalam sebuah tim. Merekalah yang biasanya dijuluki “unsung hero” atau bisa diartikan sebagai “pahlawan yang tak dikenal”. Nah, dalam sepakbola modern, ada beberapa unsung hero terbaik yang pernah atau masih bermain hingga kini. Mungkin enam di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Esteban Cambiasso


Embed from Getty Images

Esteban Cambiasso datang ke Inter Milan pada tahun 2004 setelah sebelumnya berseragam Real Madrid sejak tahun 2002. Pada musim pertamanya, Cambiasso segera mendapatkan tempat utama sekaligus berhasil membawa Inter merebut gelar juara Coppa Italia setelah di final mengalahkan AS Roma.

Cambiasso pun akhirnya bertahan selama 10 tahun di Inter dan mencatatkan 315 penampilan dengan kontribusi 41 gol. Ia adalah pemain penting di Inter dan turut membawa Nerazzurri memenangi treble winners pada musim 2009/2010 di bawah asuhan Jose Mourinho. Akan tetapi, nama pemain kelahiran 18 Agustus 1980 ini ternyata masih kalah bersinar dengan bintang-bintang Inter lain, yang bermain bersamanya selama di Giuseppe Meazza.

2. Edin Dzeko


Embed from Getty Images

Sejak kedatangannya ke Manchester City pada musim 2011/2012, nama Edin Dzeko terus berada di bawah bayang-bayang Sergio Aguero. Selain Aguero, Dzeko juga harus bersaing ketat untuk mendapatkan tempat utama dengan pemain-pemain seperti Carlos Tevez dan Mario Balotelli di musim pertamanya. Jadi, tidak heran jika kemudian ia seringkali harus memulai pertandingan dari bangku cadangan.

Akan tetapi, meskipun waktu bermainnya tidak maksimal, nyatanya Dzeko adalah pemain yang tajam. Ia seringkali menjadi supersub dan punya peran penting dalam mengantarkan The Citizens meraih dua gelar Premier League.

3. Rafael Marquez


Embed from Getty Images

Rafael Marquez menjadi pemain asal Meksiko pertama yang memenangi gelar Liga Champions, yaitu ketika Barcelona mengalahkan Arsenal di final pada tahun 2006. Di Camp Nou, Marquez menjadi pemain yang penting di lini belakang La Blaugrana. Hal itu terbukti dari jumlah penampilannya yang mencapai lebih dari 200 pertandingan dalam jangka waktu tujuh tahun. Akan tetapi Marquez -yang hingga kini masih dianggap sebagai pemain belakang terbaik Meksiko- tidak pernah mendapatkan ketenaran seperti yang didapatkan beberapa rekannya seperti Carles Puyol di Barcelona.

4. Guti Hernandez


Embed from Getty Images

Pemain lulusan akademi Real Madrid memulai kariernya dari Real Madrid C, lalu ke Real Madrid B sampai akhirnya menembus skuat utama pada tahun 1995. Pemain bernomor punggung 14 ini mencatatkan penampilan sebanyak 542 kali bersama El Real. Kesuksesannya bersama Madrid bisa dibilang sangat lengkap. Hanya saja, namanya tidak pernah secemerlang bintang-bintang Los Blancos yang pernah bermain bersamanya, semisal Luis Figo, Zinedine Zidane atau Raul Gonzalez..

5. Park Ji-Sung


Embed from Getty Images

Park disebut-sebut sebagai salah satu pemain Asia tersukses di Premier League, bahkan di Eropa. Kontribusinya untuk Manchester United dinilai sangat krusial, apalagi dengan keunggulan staminanya yang di atas rata-rata. Pengabdiannya selama tujuh tahun di Old Trafford pun terbilang sangat sukses dengan banyak gelar yang berhasil diraih.
unsung hero sepakbola
Headline sebuah surat kabar tentang Park Ji-Sung sang unsung hero.

Namanya harum di Asia terutama di negara asalnya, Korea Selatan. Namun pamornya selama bermain di MU tak pernah setinggi pemain-pemain bintang ‘Setan Merah’ lain yang seangkatan dengannya. Sebut saja seperti Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Dimitar Berbatov, dan beberapa nama beken lainnya.

6. Gilberto Silva


Embed from Getty Images

Nama Gilbero Silva mungkin tak setenar Patrick Vieira atau Thierry Henry ketika kita membicarakan kesuksesan Arsenal memenangi Premier League di musim 2004/2005. Ia memang tidak mempunyai skill tinggi seperti pemain Brasil kebanyakan. Akan tetapi perannya sebagai gelandang bertahan yang kuat dan tak tergantikan di Arsenal tidak terelakkan lagi.

Silva sukses mengantarkan Tim Meriam London mendapat julukan The Invicible Team kala itu lantaran tidak terkalahkan selama satu musim liga dan keluar sebagai juara. Di era saat ini, peran Gilberto Silva mungkin sedikit banyak mirip dengan gelandang bertahan asal Brasil milik Real Madrid, Casemiro.

Bagaimana? Setuju dengan enam unsung hero terbaik yang pernah dan masih bermain di jagat sepakbola modern tadi? Mungkin di masa lalu ada banyak nama-nama tak beken lain, yang sebenarnya punya peran sangat penting buat tim tapi tidak terlalu disorot. Atau kalian punya nama pesepakbola lain yang lebih layak disebut unsung hero? Coba sebutkan di kolom komentar, ya.
Read more