2018-04-03

Captain Tsubasa Terbaru: Menuju Piala Dunia 2018

captain tsubasa 2018

Penantian panjang para penggemar anime “Captain Tsubasa” terjawab sudah. Bukan hanya kalangan anak-anak—yang baru mengenal sosok Tsubasa kemarin sore—tetapi juga mereka yang kini mungkin sudah beranjak dewasa. Bagaimana tidak, seri terakhir Captain Tsubasa dengan tajuk “Road to 2002” muncul pada rentang Oktober 2001 hingga Oktober 2002 silam. Setelah kurang lebih 16 tahun absen menghibur para penggemarnya, akhirnya pada 2018 ini Ozora Tsubasa dan kawan-kawan kembali dengan membawa cerita yang baru.

Disutradarai oleh Toshiyuki Kato, anime yang diadaptasi dari manga karya Yoichi Takahashi ini digarap oleh David Production. Sementara itu lisensi untuk distribusi di wilayah Amerika Utara dan Amerika Latin dipegang oleh Viz Media. Berbeda dengan seri-seri sebelumnya, Captain Tsubasa 2018 hadir dengan grafis yang lebih segar. Episode perdananya sendiri telah mulai tayang di layar kaca Jepang pada 2 dan 3 April 2018. TV Tokyo menjadi salah satu penyiar resmi seri terbaru Captain Tsubasa yang nantinya terdiri dari dua musim, dengan masing-masing musim memiliki 26 episode.

Jika Road to 2002 mengisahkan perjalanan Tsubasa dan tim nasional Jepang menuju gelaran Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang, Captain Tsubasa 2018 ternyata juga akan mengisahkan perjalanan Tsubasa dan teman-temannya membawa tim nasional Jepang ke Piala Dunia 2018 di Rusia.

Dalam episode perdana, terlihat bahwa ada elemen-elemen baru yang disesuaikan dengan kehidupan masyarakat masa kini. Captain Ozora—ayah Tsubasa—tidak lagi berkirim surat untuk mengetahui kabar keluarganya di Jepang, melainkan ia sudah menggunakan ponsel sebagai alat komunikasi saat sedang bertugas sebagai kapten kapal.

Musim pertama Captain Tsubasa 2018 mengangkat lagi cerita pada seri Kids’ Dream, mengombinasikan cerita orisinal dari manga dan elemen di era modern. Baru di musim kedua nanti akan ada cerita baru yang disuguhkan, dimana Tsubasa memimpin tim nasional Jepang bersaing di pentas Piala Dunia menghadapi lawan-lawan yang kuat. Beberapa pesepakbola ternama dunia pun kabarnya akan muncul dalam anime ini seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.


Sinopsis Captain Tsubasa 2018 Episode 1


Episode 1 Captain Tsubasa 2018 menceritakan kisah anak dengan penuh semangat bernama Ozora Tsubasa (11 tahun) yang telah mulai bermain sepakbola sejak kecil. Awalnya, sepakbola hanya menjadi olahraga favoritnya saja, namun hal itu makin berkembang menjadi mimpi besar yang ingin diwujudkannya kelak.

Untuk mewujudkan mimpi menjadi pemain sepakbola terbaik, Tsubasa pindah bersama ibunya ke kota Nankatsu, tempat yang dikenal sebagai basis dari beberapa tim sepakbola sekolah dasar terbaik. Ia pun bertemu dengan Ryo Ishizaki, anggota tim sepakbola SD Nankatsu, yang kemudian menjadi temannya. Tsubasa juga sangat terkagum-kagum saat pertama kali melihat penjaga gawang berbakat Genzo Wakabayashi dan langsung ingin menantangnya.

Selain itu di episode perdana juga muncul beberapa karakter utama lain seperti Roberto Hongo, pelatih Mikami dan beberapa anggota kesebelasan Shutetsu yang dikapteni oleh Wakabayashi. Di situlah Tsubasa mulai menunjukkan bakat alaminya dalam mengolah si kulit bundar dan membuat orang-orang di sekitarnya berdecak kagum.

Penasaran dengan cerita selengkapnya? Download episode 1  Captain Tsubasa 2018 di link berikut ini.



Fakta Unik Captain Tsubasa 2018
  • Captain Tsubasa 2018 menggunakan lagu pembuka baru berjudul Start Dash! Dari Johnny’s WEST.
  • Pada teaser ketiga sebelum dirilisnya episode pertama, Tsubasa tampak berlatih dengan seragam SD Nishigaoka—mungkin untuk seleksi tim pilihan Kota Nankatsu—yang mirip dengan seragam SMP Nankatsu pada anime Captain Tsubasa 1983 (Fight Boys), yaitu putih dengan garis merah.
  • Pada teaser yang sama terungkap bahwa mentor sekaligus pelatih Tsubasa, Roberto Hongo, mengenakan seragam dengan nomor 10 untuk tim nasional Brasil di puncak kariernya.
Read more

Komik Sepakbola “Menembus Jantung Pertahanan”

komik menembus jantung pertahanan

Anak-anak generasi 90-an tentu sangat akrab dengan manga dan anime Captain Tsubasa. Kisah ini begitu digilai anak-anak pada zaman itu (sampai sekarang), hingga membuat mereka mencintai sepakbola. Bahkan legenda hidup sepakbola Prancis, Zinedine Zidane, ternyata juga menyukai Captain Tsubasa. Kisah perjalanan Tsubasa pula yang telah menginspirasi para pesepakbola Jepang untuk benar-benar membawa kesebelasan Negeri Matahari Terbit tampil di ajang Piala Dunia.

Akan luar biasa pastinya kalau hal itu juga dialami oleh tim nasional sepakbola Indonesia. Terinspirasi dari tokoh komik, lalu mulai menyukai sepakbola, hingga akhirnya menjadi pesepakbola profesional dan membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia. Narasi yang sangat indah, bukan? Namun bukan tokoh Captain Tsubasa yang menjadi inspirasi melainkan tokoh bernama Sakti, Senopati, Ciko, dan kawan-kawan, dari komik sepakbola “Menembus Jantung Pertahanan.”

Ya, ini adalah sebuah komik karya anak bangsa yang mengusung tema sepakbola. Sama seperti Captain Tsubasa, namun ceritanya tentu dibuat sesuai lingkungan dan kebiasaan orang-orang Indonesia.

Menembus Jantung Pertahanan


Tokoh Sakti adalah anak kelas 1 SMP penggila sepakbola yang ada di gambar sampul buku volume 1. Dia menyukai nomor punggung 20, mungkin terinspirasi dari eks penyerang timnas Indonesia, Bambang Pamungkas. Sakti adalah anak angkat dari mantan pesepakbola profesional bernama Surya Purnawarman, yang sekaligus menjadi pelatih di SSB Balebunder, tempat di mana Sakti berlatih dan bermain.

komik menembus jantung pertahanan

SSB Balebunder juga memiliki dua pemain jagoan dengan ego tinggi, yaitu Senopati dan Ciko. Ketiganya—Sakti, Senopati dan Ciko—sama-sama bermimpi untuk menjadi pesepakbola terbaik dan memenangkan kejuaraan nasional.

Saat SSB Balebunder mendapat undangan untuk mengikuti turnamen nasional U-16, kesempatan ini pun tidak dilewatkan oleh pelatih Surya agar anak-anak didiknya bisa menggapai mimpi mereka untuk menjadi juara. Namun, berbagai rintangan telah menanti di depan, termasuk adanya salah satu kesebelasan kuat yang menjadi langganan juara turnamen, Sebelas Rajawali.

Sangat seru, bukan? Namun sayangnya, komik Menembus Jantung Pertahanan baru mengeluarkan dua volume saja. Volume pertama, menceritakan tentang perkenalan tokoh-tokoh utama, siapa saja mereka dan bagaimana sifatnya. Lalu di volume kedua, mulai diceritakan bagaimana SSB Balebunder membentuk tim dan mengikuti turnamen nasional.

Jika dilihat dari alur ceritanya, pembuat komik menekankan pentingnya kompetisi di tingkatan usia muda dalam sepakbola Indonesia. Dimana saat ini induk organisasi sepakbola nasional juga tengah mengembangkan pendidikan sepakbola usia muda. Keberadaan SSB pun memiliki peran krusial bagi anak-anak sebagai tempat bertumbuh dan mengembangkan bakat sepakbola mereka hingga menuju jenjang profesional kelak.

Ide cerita yang layak diapresiasi dari pembuat komiknya. Semoga ke depannya komik Menembus Jantung Pertahanan bisa menginspirasi anak-anak Indonesia seperti komik Captain Tsubasa.

Kapan Volume 3 Terbit?


Menurut info terbaru yang selalu dibagikan melalui akun Instagram @komikmjp, Menembus Jantung Pertahanan volume 3 masih dalam proses pengerjaan dan kemungkinan akan segera terbit dalam waktu dekat. Dalam bocoran gambar sampulnya juga ada satu nama baru—Mochammad Fadli—yang ikut menggarap komik ini.


Dapatkah SSB Balebunder menaklukkan lawan-lawannya di turnamen nasional? Seperti apa pertarungan sengit saat Sakti dkk. bertemu dengan kesebelasan Sebelas Rajawali? Menarik untuk ditunggu bagaimana kelanjutan kisah di komik garapan Juan Vito, Salman Kuntjoro Jakti dan Mochammad Fadli ini.

Komik Menembus Jantung Pertahanan volume 1 dan 2 dapat dibeli di sini.
Read more

2018-02-10

Kumpulan Lagu Tentang Manchester United untuk Bangkitkan Semangat

lagu tentang manchester united

Bagi para fans Manchester United, seperti saya, alunan lagu bertajuk “Glory Glory Man United” tentu sudah tak asing lagi di telinga. Para pendukung The Red Devils, baik yang hadir langsung ke stadion maupun hanya sekadar menonton lewat tayangan televisi selalu menyanyikan lagu tentang Manchester United itu untuk mendukung para pemain di lapangan.

Lagu tersebut pun menjadi salah satu favorit saya untuk didengarkan setiap hari. Tetapi tahukah Anda bahwa selain “Glory Glory Man United”, ternyata masih banyak lagu-lagu lain yang mengusung tema Manchester United? Beberapa di antaranya sengaja dibuat oleh para fans sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap The Red Devils. Bahkan Ada pula lagu yang memang diciptakan khusus sebagai lagu resmi United.

Nah, untuk Anda pendukung setia klub Setan Merah, saya punya beberapa rekomendasi lagu tentang Manchester United yang bisa didengarkan saat waktu luang dan tentunya agar lebih mencintai klub ini.

Daftar Lagu Tentang Manchester United


1. Glory Glory Man United


Ini lagu yang saya bahas di awal tadi dan memang sudah menjadi anthem bagi publik The Red Devils. Adapun single asli “Glory Glory Man United” pertama kali dirilis oleh Manchester United jelang final Piala FA 1983, yang mana versi asli lagu ini ditulis oleh Frank Renshaw dan direkam di Strawberry Studios di Stockport. Penyanyinya adalah para pemain MU sendiri dan beberapa kerabat Renshaw, termasuk anaknya, Lee.

Jadi, lagu ini sudah dinyanyikan oleh para fans United sejak awal 1980-an dan memasuki tahun 1990-an lagu ini makin populer. Tetapi karena musiknya mengadaptasi dari lagu lain berjudul “The Battle Hymn of the Republic”, lagu “Glory Glory” ini juga akan terdengar familiar dengan beberapa lagu milik klub lain seperti Tottenham Hotspur, Leeds United dan South Sydney.

Di tahun 2007 lalu Will Robinson dan Michael Graves bersama dalam The World Red Army merilis versi penuh dari lagu “Glory Glory Man United”, yang akhirnya menjadi lagu resmi di Old Trafford.


2. The Manchester United Calypso


Kalau lagu yang satu ini sudah dirilis jauh sebelum “Glory Glory Man United” populer, bahkan sebelum tragedi kecelakaan pesawat yang menimpa The Busby Babes di Munich tahun 1958. Walaupun terkesan ‘jadul’, namun hingga kini lagu tersebut masih sangat disukai oleh para penggemar MU.

Lagu berjudul “The Manchester United Calypso” pertama kali direkam pada tahun 1955 (dirilis tahun 1957) oleh Edric Connor, seorang penyanyi Karibia kelahiran Trinidad, namun tinggal di London sejak 1944. Adapun ‘calypso’ sendiri adalah salah satu jenis musik khas masyarakat Kariba.

Lirik dalam lagu ini menceritakan bagaimana kekaguman seseorang kepada Manchester United-nya Matt Busby pada saat itu. Si penyanyi seolah mengatakan jika Anda ingin melihat permainan sepakbola terbaik, maka lihatlah Manchester United. Begini salah satu penggalan liriknya, “Whenever they’re playing in your town, you must get to that football ground. Take a lesson, come and see, football taught by Matt Busby.” Selengkapnya, dengarkan saja lagunya di bawah ini.


3. United Road (Take Me Home)


Ini juga salah satu favorit saya. Judulnya sempat ‘dipelesetkan’ saat MU lolos ke final Liga Europa musim 2016/17, menjadi “Take Me Holm”, karena pertandingannya berlangsung di Stockholm, Swedia.

"United Road (Take Me Home)" sangat populer di kalangan pendukung Manchester United. Musiknya diadaptasi dari lagu “Take Me Home, Country Roads” milik John Denver’s oleh Col Page. Selain “Glory Glory Man United”, Old Trafford juga sering memutar lagu ini. Sedangkan para pendukung MU biasanya hanya menyanyikan bagian chorus-nya saja.

Inspirasi lagu ini adalah nama jalan yang membentang di North Stand, Old Trafford, yakni United Road. Liriknya menceritakan tentang seorang fans yang rindu menyaksikan dan mendukung secara langsung para pemain Manchester United di stadion kebanggaan, The Theater of Dreams. Langsung saja dengarkan lagunya di bawah ini.


4. Come On You Reds


Lagu tentang Manchester United berikutnya adalah “Come On You Reds”, yang direkam dan dirilis secara resmi oleh Manchester United bersama grup rock Status Quo. Lagu ini pertama kali masuk UK Singles Chart pada 30 April 1994 dan mampu bertahan hingga 15 pekan, dengan sempat menduduki peringkat pertama selama dua minggu.

Baca Juga:


Menariknya, “Come On You Reds” ternyata menjadi satu-satunya lagu klub sepakbola yang mampu merebut posisi 1 di tangga lagu UK. Semua liriknya menceritakan tentang dukungan terhadap Manchester United. Sangat pas, karena lagu ini dirilis sekitar empat pekan sebelum final Piala FA 1994. “Come On You Reds” menjadi makin populer dan naik ke tangga lagu pertama setelah final tersebut, karena MU keluar sebagai pemenang.


5. United (We Love You)


Sekilas, bagian inti lagu ini mirip dengan chant yang sering diserukan para pendukung MU di stadion, “We love United, we do. Oh, United we love you.” Lagu berjudul “United (We Love You) dirilis setahun sebelum lagu “Come On You Reds”, yakni pada tahun 1993 oleh Manchester United. Namun prestasi terbaik lagu ini di UK Singles Chart hanya di posisi 37.

Tidak banyak informasi yang saya dapatkan tentang lagu ini, tapi liriknya benar-benar menggambarkan bahwa “Saya Cinta United”. Begini lagunya.


6. We’re Gonna Do It Again


Manchester United, sampai dengan 2017, telah mengoleksi 12 trofi Piala FA –yang terbanyak kedua setelah Arsenal (13)-. Nah, ternyata di tahun 90-an lalu MU selalu merilis lagu khusus jika mereka berhasil masuk ke final Piala FA. Setelah di tahun 1994 sukses menjuarai Piala FA dan membuat lagu “Come On You Reds” merajai tangga lagu di UK, setahun berikutnya MU kembali merilis lagu baru.

We’re Gonna Do It Again” menggambarkan keinginan MU untuk kembali menjuarai Piala FA di tahun 1995, setelah berhasil menembus final. Sayangnya saat itu MU kalah 1-0 dari Everton dan lagu ini hanya berhasil menduduki peringkat 6 di UK Singles Chart.


7. Move Move Move (The Red Tribe)


Belum puas karena gagal di final Piala FA 1995, MU kembali melaju ke final di tahun berikutnya. Nah, tepatnya pada 22 April 1996 dirilislah lagu berjudul “Move Move Move (The Red Tribe) oleh Manhcester United.

Setan Merah pun berhasil keluar sebagai juara lagi di tahun tersebut. Tempat terbaik lagu ini adalah di peringkat 6 UK Singles Chart, sempat menghilang, lalu masuk lagi ke chart di peringkat 50 tiga bulan kemudian. Kalau saya pribadi kurang suka dengan lagu yang satu ini, tapi lagu apapun yang bertemakan United tetap saya dengarkan.


8. Lift it High (All About Belief)


Hal apa yang paling enak dilakukan setelah berhasil merebut tiga gelar bergengsi sekaligus dalam semusim? Menyanyi? Mungkin itulah yang ada di benak para penggawa United setelah sukses meraih treble winners di tahun 1999.

Buat saya, ini menjadi salah satu lagu tentang Manchester United yang paling enak didengarkan. Apalagi kalau menonton video klipnya, di mana yang menyanyi adalah para bintang MU di masa itu. “Lift it High (All About Belief)" dirilis pada 17 Mei 1999, menyusul kesuksesan treble winners MU-nya Sir Alex Ferguson. Dinyanyikan oleh pemain-pemain seperti para anggota Class of ’92, Ole Solkjaer, Japp Stam, Michael Schmeicel, Dwight Yorke, dan kawan-kawan, lagu ini sempat mencapai peringkat ke-11, lho, dan bertahan selama tujuh minggu di UK Singles Chart.


9. Red Is The Man (Sir Alex Ferguson)


Berikutnya adalah lagu tentang sang manajer legendaris dan pujaan para pendukung United, Sir Alex Ferguson. Lagu ini dinyanyikan oleh The World Red Army featuring Fabrian Goroncy, diproduksi oleh Will Robinson dan Michael Graves. Liriknya ditulis oleh cukup banyak orang, tetapi yang jelas lagu “Red Is The Man” menceritakan tentang Sir Alex Ferguson dan bagaimana para fans MU begitu memujanya.

Liriknya sederhana, namun benar-benar membuat saya rindu pada masa kejayaan MU di era Sir Alex Ferguson.


10. Song for the Champions


Untuk menutup daftar lagu tentang Manchester United ini, saya pilih lagu berjudul “Song for the Champions”. Saya sendiri belum menemukan informasi valid mengenai siapa penulis lagunya dan siapa penyanyinya. Lagu ini seperti medley atau gabungan dari banyak chant tentang pemain dan dukungan untuk klub yang dinyanyikan oleh para fans.

Song for the Champions” didedikasikan pada gelar juara liga yang ke-19 untuk Manchester United pada tahun 2011 lalu. Di mana itu berarti United berhasil melewati rekor Liverpool dengan 18 gelarnya. Tidak heran kalau para pendukung The Red Devils begitu bahagia dan berjingkrak kegirangan sambil menyanyikan lagu ini. Tidak usah berlama-lama lagi, ini dia “Song for the Champions”.


Nah, itu tadi adalah kumpulan lagu tentang Manchester United yang sering saya dengarkan selama ini. Cocok untuk didengarkan saat MU menang ataupun kalah, karena bisa menambah semangat menjalani hari. Jika Anda ingin mendengarkan lebih banyak lagi lagu-lagu atau chant pendukung Manchester United, silakan kunjungi channel YouTube “The World Red Army”, di sana banyak lagu dan chant pendukung MU yang pastinya enak didengarkan. Sampai jumpa di artikel berikutnya!
Read more

2018-01-17

Para Pemain Berjuluk ‘Unsung Hero’ di Era Sepakbola Modern

unsung hero sepakbola

Jagat persepakbolaan dapat diibaratkan sebagai sebuah panggung yang dipenuhi bintang-bintang. Setiap nama mempunyai ketenarannya masing-masing untuk kemudian mendapatkan sorotan dari publik. Akan tetapi, bukan berarti hanya pemain berlabel bintang saja yang paling terampil dan selalu menjadi andalan bagi sebuah tim.

Buktinya, ada pemain-pemain -yang meskipun tidak berstatus sebagai pemain bintang- namun mempunyai peran krusial dalam sebuah tim. Merekalah yang biasanya dijuluki “unsung hero” atau bisa diartikan sebagai “pahlawan yang tak dikenal”. Nah, dalam sepakbola modern, ada beberapa unsung hero terbaik yang pernah atau masih bermain hingga kini. Mungkin enam di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Esteban Cambiasso


Embed from Getty Images

Esteban Cambiasso datang ke Inter Milan pada tahun 2004 setelah sebelumnya berseragam Real Madrid sejak tahun 2002. Pada musim pertamanya, Cambiasso segera mendapatkan tempat utama sekaligus berhasil membawa Inter merebut gelar juara Coppa Italia setelah di final mengalahkan AS Roma.

Cambiasso pun akhirnya bertahan selama 10 tahun di Inter dan mencatatkan 315 penampilan dengan kontribusi 41 gol. Ia adalah pemain penting di Inter dan turut membawa Nerazzurri memenangi treble winners pada musim 2009/2010 di bawah asuhan Jose Mourinho. Akan tetapi, nama pemain kelahiran 18 Agustus 1980 ini ternyata masih kalah bersinar dengan bintang-bintang Inter lain, yang bermain bersamanya selama di Giuseppe Meazza.

2. Edin Dzeko


Embed from Getty Images

Sejak kedatangannya ke Manchester City pada musim 2011/2012, nama Edin Dzeko terus berada di bawah bayang-bayang Sergio Aguero. Selain Aguero, Dzeko juga harus bersaing ketat untuk mendapatkan tempat utama dengan pemain-pemain seperti Carlos Tevez dan Mario Balotelli di musim pertamanya. Jadi, tidak heran jika kemudian ia seringkali harus memulai pertandingan dari bangku cadangan.

Akan tetapi, meskipun waktu bermainnya tidak maksimal, nyatanya Dzeko adalah pemain yang tajam. Ia seringkali menjadi supersub dan punya peran penting dalam mengantarkan The Citizens meraih dua gelar Premier League.

3. Rafael Marquez


Embed from Getty Images

Rafael Marquez menjadi pemain asal Meksiko pertama yang memenangi gelar Liga Champions, yaitu ketika Barcelona mengalahkan Arsenal di final pada tahun 2006. Di Camp Nou, Marquez menjadi pemain yang penting di lini belakang La Blaugrana. Hal itu terbukti dari jumlah penampilannya yang mencapai lebih dari 200 pertandingan dalam jangka waktu tujuh tahun. Akan tetapi Marquez -yang hingga kini masih dianggap sebagai pemain belakang terbaik Meksiko- tidak pernah mendapatkan ketenaran seperti yang didapatkan beberapa rekannya seperti Carles Puyol di Barcelona.

4. Guti Hernandez


Embed from Getty Images

Pemain lulusan akademi Real Madrid memulai kariernya dari Real Madrid C, lalu ke Real Madrid B sampai akhirnya menembus skuat utama pada tahun 1995. Pemain bernomor punggung 14 ini mencatatkan penampilan sebanyak 542 kali bersama El Real. Kesuksesannya bersama Madrid bisa dibilang sangat lengkap. Hanya saja, namanya tidak pernah secemerlang bintang-bintang Los Blancos yang pernah bermain bersamanya, semisal Luis Figo, Zinedine Zidane atau Raul Gonzalez..

5. Park Ji-Sung


Embed from Getty Images

Park disebut-sebut sebagai salah satu pemain Asia tersukses di Premier League, bahkan di Eropa. Kontribusinya untuk Manchester United dinilai sangat krusial, apalagi dengan keunggulan staminanya yang di atas rata-rata. Pengabdiannya selama tujuh tahun di Old Trafford pun terbilang sangat sukses dengan banyak gelar yang berhasil diraih.
unsung hero sepakbola
Headline sebuah surat kabar tentang Park Ji-Sung sang unsung hero.

Namanya harum di Asia terutama di negara asalnya, Korea Selatan. Namun pamornya selama bermain di MU tak pernah setinggi pemain-pemain bintang ‘Setan Merah’ lain yang seangkatan dengannya. Sebut saja seperti Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Dimitar Berbatov, dan beberapa nama beken lainnya.

6. Gilberto Silva


Embed from Getty Images

Nama Gilbero Silva mungkin tak setenar Patrick Vieira atau Thierry Henry ketika kita membicarakan kesuksesan Arsenal memenangi Premier League di musim 2004/2005. Ia memang tidak mempunyai skill tinggi seperti pemain Brasil kebanyakan. Akan tetapi perannya sebagai gelandang bertahan yang kuat dan tak tergantikan di Arsenal tidak terelakkan lagi.

Silva sukses mengantarkan Tim Meriam London mendapat julukan The Invicible Team kala itu lantaran tidak terkalahkan selama satu musim liga dan keluar sebagai juara. Di era saat ini, peran Gilberto Silva mungkin sedikit banyak mirip dengan gelandang bertahan asal Brasil milik Real Madrid, Casemiro.

Bagaimana? Setuju dengan enam unsung hero terbaik yang pernah dan masih bermain di jagat sepakbola modern tadi? Mungkin di masa lalu ada banyak nama-nama tak beken lain, yang sebenarnya punya peran sangat penting buat tim tapi tidak terlalu disorot. Atau kalian punya nama pesepakbola lain yang lebih layak disebut unsung hero? Coba sebutkan di kolom komentar, ya.
Read more

2017-10-23

Bagaimana Fantasy Football Merusak Keintiman Fans dan Tim Favoritnya

apa itu fantasy football

Belakangan ini ada satu keresahan yang rasanya sudah semakin mengganggu kecintaan saya terhadap sepakbola, terutama pada tim favorit saya, Manchester United. Keresahan tersebut bernama “Fantasy Football”, sebuah permainan online yang selama bertahun-tahun menjadi candu bagi beberapa penggemar sepakbola. Saya sebut ‘beberapa’, karena memang ada sebagian lain yang tidak menyukai permainan ini. ‘Beberapa’ tersebut mungkin juga tidak setuju dengan pendapat saya.

Sekitar dua atau tiga tahun lalu sebenarnya saya masih belum mengendus keberadaan permainan Fantasy Football. Hingga akhirnya pada pertengahan musim kompetisi 2015/16, saya mengunduh aplikasi resmi Premier League di Play Store dan mulai mengenal Fantasy Premier League (FPL). Ini adalah jenis permainan Fantasy Football khusus untuk tim-tim dan para pemain yang bertanding di English Premier League.


Secara sederhana, dalam permainan ini saya dituntut untuk menjadi manajer sebuah tim fantasi alias tim versi saya sendiri. Disediakan modal sebesar 100 juta poundsterling untuk membentuk tim yang terdiri dari 15 pemain. Lalu di setiap pekannya, saya harus menyusun line up dengan 11 pemain terbaik di tim saya dan 4 pemain lainnya menjadi cadangan.

Nantinya akan ada poin yang dikumpulkan oleh setiap pemain. Kemudian poin-poin tersebut diakumulasikan selama satu musim penuh. Adapun poin-poin yang didapat akan bergantung pada performa pemain jagoan saya di pertandingan sebenarnya. Apakah mereka mencetak gol, membuat assist, clean sheet, melakukan penyelamatan, dan berbagai aspek lain bisa memengaruhi perolehan poin di permainan FPL.

Untuk FPL sendiri, biasanya ada pihak ketiga yang membuat liga-liga privat dengan iming-iming hadiah, mulai dari uang, pulsa, jersey, sebagainya. Nah, hal itulah yang membuat saya makin bersemangat untuk memainkan permainan ini, terutama sejak awal musim 2017/18. Ada belasan liga berhadiah yang saya ikuti, dengan harapan di akhir musim setidaknya ada satu liga yang dapat saya menangi dan bisa dapat hadiah.

Masih Pemain Baru di Dunia Fantasy Football


Sejujurnya, baru di musim ini saya mengikuti permainan Fantasy Football sejak awal. Tapi baru berjalan sembilan pekan, tiba-tiba muncul perasaan yang mengganggu. Bagaimana bisa saya merasa gembira ketika mendapatkan poin tinggi di Fantasy Football, tetapi pada kenyataannya tim favorit saya mengalami kekalahan?

Sebelum mengenal Fantasy Football, kekalahan Manchester United selalu berdampak pada mood saya. Masih teringat betul ketika di awal musim 2016/17 lalu The Red Devils kalah dari Chelsea dengan skor telak 4-0 di Stamford Bridge. Selama beberapa hari saya sama sekali tidak mengikuti aktivitas Manchester United di dunia maya. Saya unfollow MU di Instagram, Twitter, Facebook, LINE, sampai recent update di BBM pun tidak saya buka.

Baca Juga:


Begitu kecewanya saya melihat penampilan MU yang lini belakangnya begitu rapuh. Padahal di bursa transfer musim panas 2016 Jose Mourinho sudah menggelontorkan dana sampai ratusan juta euro untuk membeli pemain baru. Kekesalan saya baru terobati setelah beberapa hari kemudian MU berhasil mengalahkan Manchester City di Piala Liga Inggris.

Saya lalu teringat ketika dulu MU pernah juga kalah, bahkan dengan skor yang lebih telak. Beberapa tahun lalu saat saya masih duduk di kelas 12 SMA, pagi itu mood saya benar-benar hancur setelah menonton berita olahraga di TV. Manchester United kalah telak 6-1 dari Manchester City, dengan selebrasi Mario Balotelli yang makin bikin saya naik pitam.



Di sekolah, beberapa teman juga membahas soal kekalahan MU. Sampai dengan pulang sekolah, mood saya masih rusak dengan hasil pertandingan itu. Tapi, badai pasti berlalu. Beberapa hari kemudian saya berhasil move on. Walau di penghujung musim, City akhirnya berhasil memastikan diri meraih gelar juara Premier League secara dramatis di pertandingan terakhir.

Kembali soal Fantasy Football, yang sekarang ini sedikit banyak telah mengubah pola pikir saya dan perasaan saya terhadap Manchester United. Di dalam hati, saya adalah seorang fans MU. Tetapi ketika sedang menjadi manajer bagi tim fantasi, saya terkadang seperti tidak terlalu peduli lagi apakah MU menelan kekalahan, bermain seri atau mungkin menang. Hal terpenting bagi saya sebagai seorang manajer tim fantasi adalah pemain jagoan saya bisa tampil bagus dan berkontribusi bagi tim, entah dengan cara mencetak gol, membuat assist, clean sheet, dan sebagainya.

Beberapa dari kalian para pembaca, yang mungkin sudah lebih lama berkecimpung di dunia Fantasy Football ketimbang saya, mungkin juga berpandangan demikian. Tetapi pasti ada juga yang bilang kalau saya terlalu baper atau lebay.

Dibilang baper, memang iya. Sebab, saya mendukung tim favorit saya sejak kecil dan selalu pakai hati. Jika tim favorit saya kalah, saya juga ikut bersedih. Ketika menang, saya ikut gembira. Tapi perasaan itu belakangan ini jadi jarang saya rasakan. Keindahan dalam mencintai dan mendukung tim sepakbola favorit saya menjadi kurang berkesan.

Fantasy Footbal seperti sudah merusak keintiman saya dengan Manchester United. Di gameweek 9 Premier League 2017/18 akhir pekan lalu, MU kalah dari Huddersfield Town (21/10/2017) dengan skor 1-2. Wajah saya bisa saja tersenyum ketika bertemu dengan teman-teman, tapi sejujurnya mood saya masih rusak sampai ketika saya menulis artikel ini. Apalagi melihat beberapa tim pesaing terdekat berhasil meraih kemenangan telak dari lawan-lawannya.



Saya mungkin merasa senang karena Nicolas Otamendi mencetak satu gol ketika Manchester City menang 3-0 atas Burnley, karena di tim FPL saya ada nama bek internasional Argentina itu. Begitu pula dengan Harry Kane, striker tim FPL saya yang sukses membuat dua gol dan satu assist ke gawang Liverpool.

Tapi di satu sisi, saya selalu berprinsip untuk tetap mengutamakan pemain Manchester United di tim FPL saya. Setiap pekan harus ada tiga pemain MU (batas maksimal pemain dari satu tim), yang menjadi starter, sisanya baru saya ambil pemain dari tim lain. Entah apakah kebiasaan ini akan saya lakukan setiap minggunya sampai dengan musim 2017/18 berakhir atau justru akan berhenti di tengah jalan. Tanggung rasanya kalau berhenti di tengah jalan, karena peluang mendapat hadiah di liga-liga yang saya ikuti juga masih ada.

Sebelumnya, saya tidak pernah merasa sesenang ini ketika tim pesaing MU meraih kemenangan. Fantasy Football rasanya memang telah betul-betul mengganggu keharmonisan hubungan saya dengan Manchester United.
Read more

2017-09-09

Formasi FPL Terfavorit untuk Mendulang Poin Maksimal

formasi fpl

Dalam sepakbola, formasi yang diterapkan manajer tentu akan sangat menentukan hasil yang dicapai oleh sebuah tim. Nah, hal yang sama juga berlaku dalam permainan Fantasy Premier League. Meski poin dihitung bergantung pada performa dari setiap individu, namun formasi FPL juga bisa menentukan berapa banyak poin yang bisa didapat oleh tim fantasi tersebut pada tiap game week.

Di dunia nyata, seorang manajer bisa mengubah formasi timnya di tengah pertandingan ketika terjadi suatu hal yang di luar rencana. Akan tetapi, perubahan yang bersifat sementara itu tentu tidak bisa dilakukan oleh manajer FPL. Pasalnya, formasi yang dipilih oleh para manajer FPL tidak bisa diganti lagi setelah deadline. Lalu, formasi FPL seperti apa yang kiranya paling oke untuk mendulang poin maksimal di setiap game week?

Tiga Bek


formasi fpl

Banyak manajer FPL yang menyukai formasi tiga bek pada tim fantasi mereka. Padahal sebenarnya ada lima tempat untuk pemain belakang yang tersedia di line up. Tidak menutup kemungkinan alasannya adalah karena mereka ingin memaksimalkan pemain di posisi tengah dan depan, yang lebih berpotensi konsisten mendulang poin besar di setiap pertandingan.

Sebenarnya posisi bek juga cukup potensial mendulang poin besar. Bayangkan saja jika seorang bek bermain selama 90 menit penuh, melakukan clean sheet, mencetak gol atau membuat assist, serta mendapatkan bonus poin. Belum lagi jika pemain tersebut adalah kapten atau bahkan menggunakan “Triple Captain”. Poin yang didapat tentu akan sangat berlipat ganda.

Baca Juga:


Sayangnya, jarang sekali ada bek yang bisa melakukan hal seperti itu secara terus menerus di setiap game week. Di satu sisi, bek (dan penjaga gawang) juga berpotensi memberikan sumbangan poin paling kecil. Ini bisa terjadi ketika gawang timnya kebobolan atau si pemain mendapatkan kartu kuning/merah. Apalagi, kemungkinan seorang bek melakukan pelanggaran terhadap pemain lawan tentu lebih besar ketimbang pemain di posisi lain.

Oleh karena itu, untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya poin jeblok yang dihasilkan para bek, formasi tiga bek pun direkomendasikan untuk mendulang poin lebih besar. Sebelum musim 2017/18, sebenarnya ada chip All Out Attack”, yang memungkinkan manajer bisa hanya menggunakan dua bek saja dengan formasi 2-5-3. Tetapi chip tersebut saat ini sudah diganti dengan “Free Hit”.


Memilih Bek yang Tepat


Ketika menggunakan formasi tiga bek di tim fantasi, kriteria pemain seperti apa yang sebaiknya dipilih? Seorang bek akan mendapat poin besar apabila membuat assist atau mencetak gol. Nah, biasanya para pemain belakang yang sering membuat assist adalah seorang full-back atau wing back. Mereka umumnya akan sering melepas umpan ke dalam kotak penalti, yang berpotensi dikonversi menjadi gol oleh pemain lain. Tidak jarang pula mereka turut menciptakan gol.

formasi fpl

Di sisi lain, seorang center back juga tidak jarang bisa menyumbangkan gol. Biasanya mereka akan naik ke kotak penalti lawan ketika timnya mendapatkan tendangan sudut atau tendangan bebas. Selain itu, pilihlah pemain belakang yang juga sering mengambil servis bola mati di daerah lawan, yang tentunya juga berpotensi berbuah assist atau gol. Dengan begitu, maka tiga bek yang Anda pasang dalam formasi FPL tidak akan sia-sia.

Tips formasi FPL:
  • full-back atau wing back,
  • center back yang sering overlap,
  • pengambil servis bola mati.

Formasi FPL 3-4-3: Fokus Utama Striker


formasi fpl

Menentukan berapa jumlah pemain tengah dan depan yang harus diturunkan juga kerap membuat manajer FPL pusing. Dari tujuh tempat yang tersisa setelah menempatkan tiga bek (dan satu penjaga gawang), ada lima tempat kosong untuk gelandang dan tiga untuk striker. Berapa pembagian yang paling tepat untuk pemain-pemain di dua posisi tersebut? Jawabannya adalah tergantung pada komposisi pemain yang Anda punya.

Jika Anda mempunyai tiga pemain depan tajam dan sedang oke-okenya, maka memainkan ketiganya secara bersamaan bukan masalah. Dengan begitu maka Anda akan menggunakan formasi 3-4-3. Dalam formasi FPL ini, biasanya manajer memang fokus untuk mendulang poin dari pemain depan alias striker.

Tips formasi FPL:
  • berinvestasi dengan membeli tiga striker tajam (dan mahal).

Formasi FPL 3-5-2: Fokus Utama Gelandang


Di sisi lain, Anda juga bisa menggunakan formasi FPL 3-5-2. Biasanya ini dilakukan oleh manajer FPL yang ingin memanen poin lebih banyak dari para pemain tengah. Dua striker saja sudah cukup, sedangkan satu striker lainnya biasanya adalah pemain medioker, yang akan sangat jarang berada di line up.

Tidak dipungkiri bahwa poin yang bisa dikumpulkan oleh seorang gelandang dalam satu pertandingan memang berpotensi lebih besar dari striker, jika mereka berhasil mencetak gol atau membuat assist. Maka dari itu, apabila Anda memilih formasi FPL 3-5-2, disarankan supaya memilih pemain tengah kreatif dan sering menciptakan peluang untuk dirinya sendiri atau rekannya.

formasi fpl

Nah, umumnya pemain yang berkarakter seperti itu adalah seorang attacking midfielder atau winger. Sebab, pemain yang menempati dua posisi tersebut akan sangat aktif membantu penyerangan. Sedangkan untuk holding midfielder biasanya akan lebih minim menyumbang poin, karena di atas lapangan mereka memang tidak difokuskan untuk membantu penyerangan. Kecuali, gelandang bertahan itu memang tampil sangat apik, mencatatkan clean sheet dan mendapat bonus poin. Tetapi hal tersebut tentu tidak akan terjadi secara rutin di setiap game week.

Tips formasi FPL:
  • attacking midfielder,
  • winger.

Nah, itu tadi rekomendasi formasi FPL terfavorit para manajer untuk mendulang banyak poin. Dengan menggunakan formasi tiga bek, baik 3-4-3 maupun 3-5-2, kemungkinan untuk mendapatkan poin besar pun lebih terbuka. Akan tetapi, menggunakan formasi empat bek dan lima bek juga sah-sah saja, karena setiap manajer FPL pasti punya alasan tersendiri mengapa mereka menggunakan formasi tersebut. Selamat mencoba.
Read more

2017-09-01

Pesta Sulap Semarang Magic Community

Foto: Instagram/semarangmagic

Seperti sebuah trik sulap yang semakin sempurna jika terus diasah dan dilatih secara serius, Semarang Magic Community (SMC) juga tumbuh bersama para pegiat sulap yang secara tulus menyumbangkan tenaga dan pikiran mereka dari waktu ke waktu demi sebuah kemajuan. Memasuki tahun 2017, komunitas pesulap-pesulap Kota Lumpia itu pun telah memasuki tahun ketujuh mereka tumbuh dan berkembang bersama.

Semarang Magic Community akan merayakan hari jadi mereka yang ketujuh. Komunitas sulap terbesar di kota Semarang ini rencananya akan mengadakan sebuah ‘pesta sulap’, yang menjadi salah satu agenda perayaan hari jadi mereka. Pertunjukan sulap bertajuk “Return of the Poseidon Trident” akan menjadi tanda semakin menuanya usia komunitas ini.

One Semarang, One Community, One Family”, begitu slogan SMC untuk menggambarkan betapa eratnya tali persaudaraan di antara para anggotanya dan selalu menjadi penghubung antara pesulap dan penikmatnya.

A post shared by Semarang Magic Community (@semarangmagic) on

Adapun pertunjukan sulap akbar yang telah dirancang oleh SMC ini akan berlangsung pada hari Sabtu (9/9/2017), pukul 19.00 WIB, di Wisma Perdamaian, Tugu Muda-Semarang. Apa yang spesial dari pertunjukan sulap ini? Banyak hal spesial yang pastinya sayang untuk dilewatkan, terutama bagi para penggila sulap. Selain diramaikan oleh pesulap Semarang, ada pula tiga pesulap ibukota yang akan turut meramaikan acara ini.

Tiga guess star di pertunjukan sulap “Return of the Poseidon Trident” tersebut adalah Jiban, Russell Rich dan Indra Frenos. Acara ini didukung pula oleh seniman sulap handal dari JOGLOSEMAR (Jogja-Solo-Semarang), yaitu D’Rowman Rowmiruz (SMC), Dodox Decaprio (SMC), El Cazo Dejavu (SOLMAC), dan Gara Sulistya (KMJ).


Masih ragu untuk datang ke pertunjukan sulap keren ini? Salah satu pengisi acara, Jiban, melalui akun Facebook-nya menyampaikan pesan kepada para penikmat sulap yang penasaran untuk menyaksikan pertunjukan sulap “Return of the Poseidon Trident” ini.

“Jack Ma bilang jangan jadi yang terbaik. Jadilah yang pertama. Jadi yg terbaik kursinya cuma satu dan yg berebut banyak. Jadi yg pertama, bahkan ga ada yang tau disitu ada kursi. Me and my 2 good friends (plus 4) will share a stage, and we are among the few who become the 1st in this field. Yang pertama yang nge direct konser mentalism, yang pertama konser indie, yang pertama dapet penghargaan dari AMA, ya g pertama punya konten konser sendiri, yang pertama dapet kehormatan buat konser di semarang. Dan kamu, bisa juga jadi yang pertama. Yang pertama beli tiket (eaaa), dan yang pertama jadi saksi konser magic di Semarang.”

Bagaimana cara mendapatkan tiketnya?


Nah, buat kalian yang penasaran dan ingin menonton pertunjukan sulap spesial ini, tiket sudah bisa dipesan melalui kontak WhatsApp 082242400089 (Elang), 089672642897 (Cecil) atau 08995526550 (Bebo). Harga per tiketnya adalah Rp 25.000,00 untuk presale 1 dan Rp 30.000,00 untuk presale 2. Buruan pesan sebelum kehabisan tiket!


Selamat untuk Semarang Magic Community atas apa yang telah dicapai sejauh ini. Semoga di tahun ketujuh dan selanjutnya, anggotanya bisa terus bertambah dan makin solid. Salam Magic Lumpia!
Read more