Era Baru Nonton Siaran Sepak Bola

Penayangan ASEAN Championship di channel YouTube Reza Arap menandai era baru cara nonton siaran bola. Akan seperti apa perkembangannya ke depan?


Beberapa tahun lalu, saya menulis artikel tentang cara berlangganan Mola TV. Artikel itu menjadi hit dan menjadi tulisan paling banyak dibaca di blog saya. Waktu itu momennya bertepatan Euro 2020 yang disiarkan di Mola TV. Sebelum itu, Mola juga sudah memiliki hak siar Premier League.

Sebenarnya Vidio terlebih dahulu menjual layanan streaming berbayar untuk konten sepak bola. Akan tetapi, sepertinya Mola menjadi penanda pergeseran era yang benar-benar membuat masyarakat Indonesia sadar bahwa streaming pertandingan sepak bola yang resmi harus berlangganan.

Peralihan itu terasa masif. Dan seperti halnya setiap perubahan besar lainnya, pro dan kontra bermunculan.

Table of Contents

TV Free-to-air vs Platform Streaming Berbayar

Hal yang jarang diketahui adalah seluruh layanan TV free-to-air (FTA) memang wajib menayangkan siaran secara gratis, apapun programnya. Alhasil, mereka memonetisasi tayangan dengan iklan. Tidak heran jika saat menonton Liga Indonesia Anda melihat iklan di mana-mana. Indra Yudhistira dari Emtek pernah mengatakan ini dalam potongan wawancara di akun TikTok tommy_desky.

Namun, rumus “gratisan demi iklan” ini sulit diberlakukan pada platform digital (Over-The-Top / OTT) pemegang hak siar. Pasalnya, platform internet beroperasi dengan aturan main yang sepenuhnya berbeda dari segi hukum maupun infrastruktur.

Pertama, platform digital terikat oleh aturan geoblocking (pembatasan wilayah). Sinyal TV terestrial dibatasi oleh jangkauan fisik antena pemancar di dalam negeri, sedangkan internet tidak mengenal batas negara. Jika platform internet menyiarkannya gratis tanpa sistem yang ketat, orang di belahan bumi lain bisa ikut menonton. Hal ini dapat menjadi pelanggaran atas lisensi hak siar regional.

Kedua, ada perbedaan besar dalam biaya operasional. Stasiun TV FTA memancarkan satu sinyal untuk jutaan TV sekaligus tanpa biaya tambahan per penonton.

Sebaliknya, setiap satu orang yang mengklik tombol play di aplikasi streaming digital membutuhkan kapasitas bandwidth tersendiri dari server. Semakin banyak yang menonton secara digital, semakin membengkak pula biaya server yang harus dibayar oleh penyedia platform. Itulah kenapa ketika infrastruktur sebuah penyedia layanan OTT tidak memadai, platformnya bisa tumbang ketika menayangkan event besar yang ditonton banyak sekali pengguna.


Dari faktor-faktor tersebut, iklan konvensional saja tentu tidak cukup untuk menutup biaya server sekaligus harga lisensi hak siar yang sangat mahal. Oleh karena itu, platform OTT mau tidak mau harus menggunakan model bisnis pay-per-view atau berbasis langganan untuk menjaga bisnis tetap hidup.

Penonton Dipaksa Beradaptasi

Banyak orang bertanya-tanya, kenapa nonton bola jadi harus bayar? Selama puluhan tahun, penggemar bola di Indonesia selalu dimanjakan oleh tayangan gratis di channel TV FTA. Walaupun jumlah pertandingannya terbatas (tidak semua disiarkan), iklannya seabrek, tetapi gratis.

Peralihan kultur dari tayangan gratis ke platform berbayar inilah yang kemudian memicu keributan di internet. Banyak netizen memilih jalan pintas dengan mencari link streaming ilegal demi menyiasati keadaan.

Beberapa orang merasa cara ilegal ini ‘halal’ dan wajar-wajar saja. “Saya sudah bayar paket internet, jadi buat apa harus bayar lagi buat nonton tayangannya?” Kata mereka.

Sementara itu, beberapa orang lain menyadari bahwa cara tersebut salah, tetapi tidak punya opsi karena memang tidak mampu berlangganan.

Kabar baiknya, seiring waktu masyarakat Indonesia mulai terbiasa dengan sistem berlangganan. Pasalnya, tayangan yang bisa ditonton di OTT bukan cuma sepak bola, tetapi ada olahraga lain, film, dan series. Toh, nonton sepak bola menggunakan link streaming resmi sebenarnya banyak untungnya, seperti:

  • Resolusi tinggi dan suara tajam tanpa jeda.
  • Bisa ditonton lewat HP, laptop, atau Smart TV di mana saja.
  • Tersedia tayangan ulang dan highlights.
  • Tidak ada iklan judi atau link phishing yang berbahaya.
  • Menghargai hak cipta dan mendukung keberlangsungan liga atau klub favorit.

Mola datang dan pergi (tutup layanan per Desember 2025), Vidio mengambil alih Premier League dan menjadi platform OTT Indonesia dengan pelanggan terbanyak, sementara Vision+ menayangkan pertandingan-pertandingan Timnas. Semua platform tersebut menggunakan sistem berlangganan dan penerimaan masyarakat saat ini mulai membaik.

Adaptasi terhadap era baru selesai. Atau begitulah yang kita kira.

Harga Langganan Naik Bikin Panik

Masalahnya, setelah penonton berhasil dididik untuk berlangganan, harganya merangkak naik dari musim ke musim. Sebenarnya dongkol juga, walaupun bisa dimaklumi dari sisi bisnis.

Tahun-tahun awal adalah masa bakar uang bagi para penyedia layanan OTT untuk membeli hak siar serta mengakuisisi pelanggan. Setelah pasar terbentuk, waktunya mencari profit demi kelangsungan bisnis.

Vidio, misalnya, mereka menaikkan harga langganan untuk musim 2025/2026 hingga dua kali lipat dari musim sebelumnya. Vision+ juga ikut menaikkan tarif dengan paket-paket baru sejak 2025.

Puncaknya adalah saat menjelang Piala Dunia 2026 berlangsung. Awalnya ada kabar menggembirakan di mana TVRI berhasil mengamankan hak siar Piala Dunia dan berencana menayangkannya secara gratis.

Namun, pada kenyataannya penayangan gratis tersebut hanya berlaku di TV FTA. Sementara untuk penayangan digital, TVRI menggandeng pihak swasta sebagai mitra resmi OTT. Dalam hal ini dua platform yang ditunjuk adalah Folaplay dan MaxStreamTV.


Sempat muncul keraguan, apalagi aplikasi Folaplay baru dirilis mepet pertandingan pembuka. Sistem langganan MaxStreamTV pun masih bermasalah hingga 2 jam sebelum kick-off. Bagaimanapun, pengguna akhirnya nurut untuk berlangganan dua platform tersebut demi bisa menonton Piala Dunia 2026 secara streaming.

Cara Baru Nonton Bola

Beberapa tahun belakangan, konten live reaction nonton pertandingan sepak bola makin ramai di berbagai platform. Mereka tidak menayangkan gambar pertandingan maupun suaranya, melainkan hanya memperlihatkan beberapa orang bereaksi atas apa yang terjadi selama pertandingan.


Cara menonton penontonnya pun unik. Biasanya orang-orang menggunakan dua layar bersebelahan: satu untuk menampilkan pertandingannya dan layar kedua untuk menonton live reaction. Kesannya seperti punya teman nonbar sehingga pengalaman jadi lebih seru.

Namun, satu hal yang tidak terbayangkan oleh saya adalah ketika ternyata ada orang yang membawa konsep live reaction ke level berikutnya.

Di Brasil, Piala Dunia 2026 menghadirkan pemegang hak siar yang unik, yaitu CazéTV. Channel YouTube ini menayangkan Piala Dunia secara gratis dengan konsep yang benar-benar berbeda dari penyiaran pertandingan sepak bola pada umumnya.

Casimiro Miguel (Cazé) merupakan seorang mantan jurnalis olahraga. Ia beralih ke Twitch lalu YouTube, membangun CazéTV sebagai platform live streaming. CazéTV bekerja sama dengan LiveMode dan FIFA untuk menayangkan seluruh 104 pertandingan Piala Dunia 2026 di YouTube-nya.


Mereka sukses mencetak rekor 12,2 juta penonton serentak pada laga Brasil vs Maroko. Keberhasilan mereka menantang dominasi Globo di Brasil dan menempatkan CazéTV sejajar konglomerat global seperti Disney, Netflix, Amazon, hingga Apple.

Tidak ada pandit berdasi yang menganalisis taktik secara formal. Sebaliknya, CazéTV menghadirkan tayangan kasual. Komentar penonton pun dilibatkan selama siaran berlangsung. Konsep ini menarik audiens muda berumur 18–34 tahun yang cenderung lebih memilih media sosial daripada TV.

Pendapatan mereka berasal dari sponsor besar yang mendukung acara (Coca-Cola, Itaú, Mercado Livre, dll.) dan iklan. CazéTV pernah menguji model berlangganan murah sebelum beralih ke siaran gratis.

Channel tersebut memang hanya bisa ditonton di Brasil, tetapi dari klip-klip yang beredar, sambutan netizen luar biasa. Menyegarkan, kata banyak orang. Saya pun setuju.

Sebenarnya, menonton bola di YouTube lewat jalur resmi bukan barang baru. Sekitar tahun 2021, channel YouTube 1 Play Sports pernah menayangkan Liga Singapura, Liga Thailand, Filipina, bahkan Liga India secara gratis.


Selain itu, channel J-League International sampai sekarang masih rutin menayangkan beberapa pertandingan liga maupun cup secara gratis. Barclays Women's Super League di Inggris juga bisa ditonton gratis di channel YouTube resmi mereka.

Bedanya, mereka menggunakan format konvensional. Komentator formal, kadang tanpa segmen pandut, lalu hanya tayang dari kick-off sampai peluit panjang. CazéTV mengubah semua itu. Dan YouTuber Indonesia ternyata tidak butuh waktu lama untuk mengadaptasi hal tersebut meski dalam skala yang berbeda.

Penyegaran dari Reza Arap dan Hanif Thamrin

Pertengahan 2026 ini, tepat setelah gelaran Piala Dunia usai, penggemar sepak bola Indonesia langsung beralih fokus ke ASEAN Championship (dulunya AFF Cup). Timnas kembali beraksi untuk memperebutkan trofi yang selama ini diimpi-impikan.

Hal yang mengejutkan, channel ybrab milik Reza Arap bekerja sama dengan RCTI untuk menayangkan seluruh pertandingan ASEAN Championship gratis di YouTube. Sebelum hari perdana penayangan, orang-orang sebenarnya sudah berekspektasi bahwa konsepnya akan kasual alih-alih formal.


Hal itu terjawab pada pertandingan Kamboja vs Singapura. Studionya sekilas mirip TV, tetapi alur acaranya jauh lebih santai. Komentatornya tidak sekaku yang ada di TV. Ada canda, ada gelak tawa, ada keseruan yang lebih dekat dengan pengalaman nonton bareng teman daripada nonton siaran di TV.

Menurut saya, ini sebuah penyegaran, baik untuk penonton yang bosan dengan format lama, maupun untuk orang-orang yang baru mulai tertarik menonton bola.

Reza Arap bukan satu-satunya tahun ini. Hanif Thamrin dengan saluran YouTube pribadinya juga berhasil mendapatkan hak siar lima pertandingan pra-musim klub-klub besar Eropa untuk ditayangkan secara gratis.


Bedanya, Hanif menayangkan pertandingan berbarengan video reaction di layar. Rekan komentatornya pun berasal dari kalangan streamer yang notabene punya target pasar berbeda.

Fakta uniknya, Hanif sempat mengutarakan niatnya untuk ikut bersaing memperebutkan hak siar Serie A jika subscriber YouTube-nya mencapai 500 ribu.

Pro dan kontra adalah hal biasa, terutama dari mereka yang belum terbiasa menonton konten livestream. Namun, buat saya yang tiap malam begadang kerja sambil ditemani konten livestream, konsep siaran sepak bola seperti ini sangatlah menarik.

Dan kuncinya satu: semuanya gratis.

Sukses Menggaet 1,2 Juta Views

Pada pertandingan Indonesia vs Kamboja, jumlah penonton puncak (peak concurrent viewers) di channel ybrap tembus 1,2 juta lebih. Angka itu menjadi bukti bahwa tayangan gratis legal di YouTube ternyata menjadi opsi yang menarik bagi banyak orang.


Meski demikian, masih ada saja yang bersikeras memilih jalur ‘haram’ karena masalah preferensi, misalnya mereka tidak suka dengan komentatornya yang berisik, tidak suka dengan Reza Arap, tidak suka karena pembahasannya enggak bola banget, dan lain sebagainya.

Resistensi terhadap model baru memang wajar. Bagi saya, itu soal preferensi dan sah-sah saja. Tidak masalah jika tidak suka. Namun, perlu diingat: selama tayangan itu disiarkan gratis secara digital dan yang bersangkutan memiliki hak siarnya secara resmi, maka konsep penayangan menjadi hak mereka. Kritik sewajarnya, tanpa merasa menjadi raja yang harus dituruti semua kemauannya.

Ketika membayar langganan di platform OTT besar pun kita tidak bisa mengatur seenaknya bagaimana mereka menayangkan konten. Lantas, kenapa untuk tayangan gratis kita merasa berhak mendikte?

Tidak ada standar tertulis yang menuntut format siaran sepak bola harus begini-begitu. Selama ini tayangan yang ada mungkin hanya mengikuti format formal yang sudah dilakukan selama puluhan tahun. Ketika mulai usang, penyegaran konsep adalah hal yang wajar.

Cara menonton siaran sepak bola seperti di channel CazéTV, ybrap, atau Hanif Thamrin ini sepertinya menandai era baru yang lebih relevan dengan zaman dan penontonnya.

Saatnya Beradaptasi (Lagi)

Menurut DataReportal per awal 2025, ada 212 juta pengguna internet di Indonesia, atau 74,6 persen dari total populasi. Usia median penduduk Indonesia 30,4 tahun, yang artinya separuh penduduk lahir dan besar di era digital.

Sebagai digital native yang rajin mengonsumsi konten digital, menonton siaran sepak bola dengan komentator kasual di channel YouTube seharusnya bukanlah hal aneh. Ke depan, jangan kaget jika akan lebih banyak lagi YouTuber berduit melakukan hal serupa.

Kita sedang menyaksikan siklus yang berulang. Dulu, penonton dipaksa pindah dari TV FTA gratis ke streaming berbayar, lalu protes, lalu akhirnya terbiasa. Sekarang, muncul lagi opsi gratis di YouTube dengan gaya pembawaan yang baru, dan lagi-lagi timbul pro-kontra.

Ada konsep yang sulit diterima masyarakat karena kesenjangan teknologi seperti menggabungkan pertandingan sepak bola dengan metaverse. Di sisi lain, ada yang terbukti berhasil karena kepraktisannya seperti konsep yang diinisiasi oleh para YouTuber. Pasarlah yang akan memutuskan, apakah tren ini akan maju atau nantinya berhenti di tengah jalan.

Saya sendiri cukup senang. Soalnya, tidak perlu berlangganan, tidak perlu juga membuka link yang ribet. Cukup akses YouTube, lalu nonton. Kalau Anda tetap lebih suka format lama dan tidak keberatan membayar langganan, itu preferensi Anda. 

Akan tetapi, yang harus disadari sekarang adalah siaran sepak bola bukan lagi hanya milik TV. Individu sekalipun bisa mendapatkan hak siar jika punya uangnya. Cara menonton sepak bola pun pasti akan terus berkembang seiring zaman. Mau tidak mau, kita sebagai penonton harus beradaptasi, lagi dan lagi.

Bagas
Bagas
Penulis artikel SEO & pengarang buku.
Ikuti saya di Instagram @bagasmagic
Link copied to clipboard.