5 Pelajaran dari Pemain MU Bernomor Punggung 31

Pelajaran hidup di umur saya yang ke-31 dari para pemain unik pemilik nomor punggung 31 di Man United.


Akhirnya saya menginjak 31 tahun. Bukan lagi umur anak muda yang naif--walaupun kata penelitian terbaru, umur segini masih dianggap remaja.

Pada fase ini, saya tidak lagi terlalu berambisi, tidak ingin membuktikan apa-apa pada dunia, tetapi berharap bisa selalu melakukan yang terbaik tiap diberi kesempatan.

Sebagai fans Manchester United, angka 31 punya tempat tersendiri di hati karena pasca era Sir Alex Ferguson, nomor ini dipakai oleh beberapa pemain dengan karakteristik yang unik.

Dari mereka, saya ingin belajar tentang bagaimana harus menjalani hidup di umur 31 tahun ini dan seterusnya.

Siapa saja mereka?

Marouane Fellaini

Marouane Fellaini sempat bernomor punggung 31 pada dua musim pertamanya di MU (2013-2015), setelah diboyong David Moyes dari Everton.

Orang-orang sering meremehkannya, meledek, bahkan tidak sedikit fans United yang ingin dia cepat-cepat hengkang dari klub.

Dari segi kualitas, penilaian terhadapnya mungkin wajar. Pasalnya, Fellaini bukanlah tipikal gelandang elegan. Namun, pandit Steve McMahon pernah berkata: Fellaini adalah plan B terbaik di dunia sepak bola.

Saat rencana utama macet atau hidup tidak berjalan mulus, Fellaini selalu bisa diandalkan. Ia bisa dimainkan dalam berbagai situasi: saat tim unggul, tertinggal, atau butuh mengubah tempo permainan.

Selama 31 tahun hidup, saya berkali-kali mengalami rencana yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Itulah kenapa saya merasa perlu mempersiapkan segalanya lebih matang, terutama dalam hal-hal yang sifatnya krusial. Akan menyenangkan jika dalam kehidupan saya memiliki plan B yang bisa diandalkan seperti sosok Fellaini di MU.

Bastian Schweinsteiger

Cinta itu rumit, tapi Basti membuatnya terlihat sederhana.

Dia datang ke MU, mencintai klub setengah mati, lalu ‘dibuang’ menjelang akhir keriernya.

Pada musim 2015/2016, Basti datang dari Bayern Munich dan melanjutkan tongkat estafet nomor punggung 31 di MU. Selama dua musim ia hanya memainkan total 35 laga. Selain karena cedera, pada musim 2016/2017 ia tidak masuk dalam rencana Mourinho.

Alhasil, Basti disuruh latihan sendiri, bahkan dijauhkan dari tim utama. Apakah dia marah? Tidak. Apakah dia menjelekkan klub di media? Tidak.

Basti merespons kondisi tersebut dengan sangat profesional. Bahkan, setelah gantung sepatu, ia tetap menjadi pendukung setia United.

Di akun media sosialnya, mantan pesepak bola Jerman itu sering membagikan momen menonton pertandingan MU, di kala menang ataupun kalah.

Saya juga jadi ingin punya hati seluas itu supaya bisa mencintai tanpa syarat dalam kondisi seburuk apapun, seperti halnya Bastian Schweinsteiger mencintai United.

Nemanja Matic

Menua itu pasti, melambat itu wajar. Namun, dua hal tersebut tidak menghentikan Nemanja Matic untuk tetap menjadi andalan di lini tengah United hingga musim terakhirnya.

Klub tengah gonjang ganjing pada musim 2021/2022. Lini tengah MU berlubang karena manajemen tidak menuruti keinginan Ole Gunnar Solskjaer untuk membeli gelandang bertahan. Opsi yang tersedia hanya Fred, Scott McTominay, dan Matic.

Saat itu Matic sudah memasuki usia 33 tahun. Meski tidak lagi muda, dengan segudang pengalamannya ia tetap menjadi jangkar yang tak tergantikan, termasuk setelah Ole digantikan oleh Ralf Rangnick.

Matic tahu kapan harus berlari, kapan harus berjalan, dan menjaga keseimbangan tim. Dia tidak butuh lampu sorot utama, melainkan hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan benar.

Seperti halnya Matic, semoga makin tua, saya juga makin steady. Tidak grasah-grusuh, yang penting tugas-tugas utama tuntas, dan juga selalu ada saat dibutuhkan.

Martin Dubravka

Saya berharap seberuntung Dubravka.

Kiper Slovakia itu datang sebagai pemain pinjaman awal musim 2022/2023 dan hanya main dua kali untuk United, sebelum ditarik kembali ke Newcastle United pada pertengahan musim.

Lucunya, di final EFL Cup kedua klub saling bertemu. Dubravka berada di pihak lawan, meski ia tidak berada di daftar susunan pemain.

Pada akhirnya, MU keluar sebagai juara dengan skor 2-0. Para pemain dan staf Newcastle gagal mendapatkan medali juara, kecuali Dubravka. Ya, berkat dua penampilannya di EFL Cup untuk MU, Dubravka berhak atas medali itu.

Rezeki memang tidak akan tertukar dan bisa datang di momen yang tidak terduga. Terkadang kita tidak perlu jadi pemain utama untuk mendapatkan ‘medali’ dalam hidup.

Senne Lammens

Ketika semua fans United sudah lelah dengan Andre Onana, datanglah seorang penyelamat bernama Senne Lammens. Kehadirannya di bawah mistar gawang benar-benar mengubah hidup banyak orang.

Penampilannya memang belum konsisten, tetapi masih banyak ruang untuk bertumbuh bagi kiper Belgia berumur 23 tahun itu.

Lammens bukanlah kiper ‘selebriti’. Dia tidak banyak gaya. Dengan ketenangannya dia mengubah kepanikan menjadi rasa aman.

Pemegang nomor 31 terkini di MU itu mampu memetik bola di udara dengan mantap, menepis tendangan mendatar dengan kakinya, dan menjangkau bola ke pojok dengan tangannya yang panjang. Kalau kata gen alpha, aura +1000.

Di usia 31 tahun, saya ingin memiliki aura itu. Kalem, tidak meledak-ledak, bisa memberikan ketenangan bagi orang sekitar, serta tetap melakukan pekerjaan dengan baik meski dunia sedang riuh-riuhnya.

What's Next?

Jadi, itulah 31. Bukan sekadar angka, melainkan representasi dari kematangan, kepedulian, ketenangan, dan keberuntungan yang tidak disangka-sangka.

Saya siap memulai babak baru untuk segala kejutan yang akan datang dengan menyandang nomor 31 di punggung kehidupan saya.

Bagas
Bagas
Penulis artikel SEO & pengarang buku.
Ikuti saya di Instagram @bagasmagic
Link copied to clipboard.