“Pinsen, Pinsen!” Mengingatkan Pesulap yang Lupa Esensi Sulap
Dari sekian banyak pesulap berbakat, kenapa malah Vincent Rompies yang berhasil me-refresh minat penonton terhadap sulap di Indonesia?
Beberapa minggu selama Ramadan 2026 ini saya sangat terhibur dengan atraksi Vincent Rompies dengan alter egonya sebagai pesulap di acara Ramadan Bareng Vindes.
Ketika homeband Orkes Pensil Alis sudah membawakan lagu “Pinsen, Pinsen!”, di situlah momen paling ditunggu tiba. Vincent muncul dengan memparodikan pesulap kontemporer India bernama Jadugar Prince yang kontennya viral di media sosial.
Awalnya cuma sekadar main sulap iseng, tetapi lama kelamaan penampilannya makin serius. Bahkan, ada beberapa permainan yang sepertinya butuh latihan serius karena handling-nya cukup rumit. Akan tetapi, Vincent membawakannya dengan baik.
Pembawaan yang begitu comical membuat orang terpukau, tanpa memikirkan bagaimana rahasia di balik triknya. Kadang-kadang malah Vincent sendiri yang secara tidak sengaja membocorkan triknya.
Cukup dengan beberapa kali penampilan, minat terhadap sulap seperti kembali bergairah. Jika biasanya sulap cuma berkutat di kolamnya sendiri, Vincent membawa sulap ke spektrum yang lebih luas. Di luar audiens Vindes, video penampilan sulapnya menjangkau berbagai kalangan.
Hal ini menunjukkan kalau minat sulap di Indonesia sebenarnya tidak pernah mati. Pertanyaannya, mengapa di antara banyak pesulap Tanah Air, justru Vincent yang berhasil menyegarkan kembali ingatan orang-orang tentang betapa menyenangkannya pengalaman nonton sulap?
Stagnasi Seni Sulap Indonesia
Ada masa ketika sulap menjadi bagian dari hiburan prime time di Indonesia. Televisi menayangkan acara-acara sulap secara rutin, dari kompetisi, variety show, sampai bongkar-bongkar trik "Masked Magician". Nama-nama pesulapnya pun dikenal luas oleh publik.
Antusiasme masyarakat menyaksikan sulap di layar kaca maupun secara langsung saat itu terbilang tinggi. Namun, hari ini terasa sedikit berbeda.
Sebenarnya sulap tidak benar-benar menghilang dari lane, tetapi juga tidak terlalu kelihatan di permukaan.
Pertunjukan sulap masih sering diadakan. Jumlah pesulap yang ada juga tidak sedikit. Hanya saja, hampir tidak ada ada figur yang menjadi barometer bagi publik luas setelah Deddy Corbuzier dan Demian Aditya.
Menurut keyakinan saya, satu-satunya pesulap Indonesia yang berada di level influence mereka atau bahkan lebih tinggi adalah Riana. Kehadirannya sudah diakui publik internasional dengan menjadi juara Asia’s Got Talent hingga tampil bersama pesulap-pesulap dunia.
Di luar itu, nama-nama lain yang dulu pernah populer perlahan menghilang dari sorotan. Ada yang memilih jalur belakang panggung, ada pula yang masanya memang sudah habis. Sementara itu, generasi baru belum mampu mengambil posisi mereka.
Pesulap yang mendapatkan eksposur besar di media sosial pun hanya menonjol di kolamnya masing-masing. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang cukup mengganggu: apakah seni sulap di Indonesia memang sedang stagnan?
Saya bukan lagi seorang pesulap. Saya berhenti tampil secara profesional sejak 2015 dan sejak itu posisi saya lebih banyak menjadi penonton, pengamat, dan sesekali penulis tentang sulap.
Jarak itu justru memberi perspektif yang berbeda. Meskipun tidak lagi berada di dalam dinamika internal komunitas, tetapi saya masih cukup dekat untuk melihat apa yang terjadi.
Banyak Pesulap, Sedikit yang Benar-Benar Membela Seninya
Jika melihat ke media sosial, akun-akun bernuansa sulap juga menjamur, dari yang pengikutnya cuma hitungan jari sampai yang jutaan. Komunitasnya pun tersebar di berbagai kota.
Namun, jumlah besar ternyata tidak berbanding lurus dengan kedalaman dedikasi terhadap seni pertunjukan sulap itu sendiri.
Awal tahun 2026 saya mengikuti lecture virtual dari Midnight Lecture. Pembicaranya adalah pesulap senior, Oge Arthemus. Di sesi tersebut ia membahas apa yang ia sebut sebagai “dark side” dari dunia sulap.
Oge berbicara tentang beberapa masalah yang sering muncul di kalangan pesulap, seperti persiapan pertunjukan yang seadanya, pemahaman yang berhenti di trik semata, hingga minimnya dukungan antarpelaku untuk benar-benar membangun seni sulap sebagai pertunjukan yang serius.
Hal-hal tersebut mungkin terdengar seperti masalah internal, tetapi dampaknya sangat besar ke luar.
Ketika seorang pesulap tampil dengan persiapan alakadarnya, penonton tidak akan menyalahkan individu itu saja. Mereka akan menilai keseluruhan seni sulap melalui pengalaman tersebut. Jika cukup banyak pertunjukan yang ditampilkan setengah matang, maka persepsi publik terhadap sulap pun ikut jelek.
Masalah lainnya adalah fokus kebanyakan individu yang terlalu besar pada trik. Banyak pesulap seperti mendewakan bagaimana sebuah trik bekerja. Padahal, dalam seni pertunjukan, trik hanyalah alat.
Faktor utama yang membuat sebuah pertunjukan sulap berkesan adalah bagaimana trik itu disusun menjadi pengalaman yang bermakna bagi penonton. Tanpa itu, pertunjukan sulap jadi generik.
Seribu pesulap bisa memainkan trik cups and ball dengan sama baiknya. Namun, kemasan pertunjukan dan personalah yang akhirnya membuat permainan itu berbeda dan berkesan di mata penonton. Contoh paling simpelnya, lihat bagaimana Pen & Teller membawakan rutin cups and ball mereka menggunakan gelas transparan.
Soal minimnya dukungan antarpelaku sulap untuk memajukan seni ini, saya bahas belakangan di akhir artikel.
Paradoks Monetisasi dalam Dunia Sulap
Setelah mendengar omelan Oge di lecture tempo hari, saya pun merenung. Kenapa pesulap-pesulap Indonesia yang jumlahnya banyak tidak mampu sama-sama mengangkat sulap menjadi industri yang besar.
Saya merasa stagnasi ini bukan karena kurangnya peluang. Justru yang terjadi adalah sebaliknya.
Sulap memiliki banyak jalur monetisasi. Seorang pesulap bisa mendapatkan pemasukan dari berbagai sumber: menjual alat sulap, menjual video tutorial, mengadakan lecture, menciptakan produk sulap baru, membuat konten digital, tampil di berbagai acara, atau mengikuti kompetisi.
Semua itu merupakan bagian yang sah dalam ekosistem sulap.
Kendati demikian, banyaknya jalur monetisasi juga menciptakan situasi unik, di mana seseorang bisa mendapatkan uang dari sulap tanpa harus benar-benar mendukung perkembangan seni sulap itu sendiri.
Saya coba pinjam istilah marketing funnel dari dunia pemasaran. Bagian atasnya sangat lebar dan memiliki pasar yang besar. Di situlah tempat banyak orang tertarik membeli alat sulap atau ingin mengetahui trik sulap, meskipun tanpa niat menjadi pesulap serius.
Sebaliknya, pasar untuk pertunjukan sulap berbayar berada di corong bawah, yang mana jauh lebih kecil. Hanya sedikit orang yang benar-benar ingin menonton pertunjukan seorang pesulap. Belum lagi dari sisi si penampil, pesulap harus latihan, mencari pengalaman panggung, dan punya keberanian untuk menghadapi penonton secara langsung.
Akibatnya, banyak pelaku sulap saat ini lebih suka bermain di bagian atas funnel. Mereka membuat konten, menjual produk, atau mengajar trik dasar karena pasarnya besar dan bisa mendatangkan keuntungan instan. Sementara panggung pertunjukan, yang seharusnya menjadi pusat dari seni sulap, justru tidak menjadi prioritas lagi.
Ketika Panggung Bukan Lagi Tujuan
Di sinilah salah satu letak permasalahannya. Dalam banyak bidang seni pertunjukan, panggung adalah tujuan akhir yang menentukan kualitas seorang penampil. Semua proses latihan, eksperimen, dan pembelajaran pada akhirnya diuji di hadapan penonton.
Sulap, khususnya di Indonesia, tidak selalu memiliki tekanan itu. Banyak pesulap mampu membangun reputasi di komunitas atau media sosial tanpa pernah benar-benar teruji di depan audiens umum.
Bukan berarti mereka tidak berbakat, tetapi kondisi tersebut membuat ekosistem kehilangan satu elemen penting, yakni proses panjang yang membentuk pesulap yang ditempa oleh pengalaman panggung.
Saya membandingkannya dengan stand-up comedy, salah satu seni pertunjukan komedi yang sebenarnya baru mulai populer di Indonesia pada saat sulap sedang jaya-jayanya.
Cara mereka berkembang adalah dengan naik panggung berkali-kali (open mic) hingga materi mereka berhasil di depan penonton. Proses tersebut menciptakan budaya latihan yang konsisten.
Materi tidak lucu sekali pun bisa jadi lucu karena komika dipaksa untuk terus menulis, menguji, dan memperbaiki materi mereka. Disiplin seperti ini akhirnya membentuk ekosistem yang kuat.
Panggung pertunjukan menjadi tujuan mereka. Ke manapun para komika itu berkarya, akhirnya panggung stand-up comedy selalu menjadi tempat pulang.
Sayangnya, sulap sepertinya tidak seperti itu. Pelaku sulap yang sudah nyaman dengan hasil monetisasi mereka akan memilih tetap berada di dalam zona nyamannya daripada memperjuangkan panggung.
Saya sama sekali tidak menilai itu salah karena kebutuhan tiap orang berbeda-beda. Namun, mindset tersebut mungkin menjadi salah satu penyebab seni sulap kita jalan di tempat.
Akhir tahun lalu saya sempat menulis liputan tentang Mind Gym dari komunitas Mindonesia Jakarta. Format acaranya mirip seperti open mic yang digelar seminggu sekali. Dari pantauan saya di akun Instagram mereka, sayang sekali sepertinya kegiatan tersebut tidak berjalan lagi selama beberapa minggu terakhir.
Refleksi Bersama
Saya pernah bermimpi industri sulap Indonesia bisa sebesar Amerika Serikat atau Eropa. Pasarnya bukan cuma sesama pesulap, tetapi juga audiens awam yang menggemari pertunjukan sulap itu sendiri.
Mungkin butuh puluhan tahun bagi sulap Indonesia untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Solusinya jelas tidak instan. Yang dibutuhkan adalah perubahan mindset, sedikit demi sedikit tetapi konsisten.
Konten digital, produk sulap, atau kelas online tetap bisa menjadi bagian dari ekosistem. Namun, semuanya akan lebih bermakna jika berakar pada pengalaman pertunjukan yang nyata. Jadi, panggung harus kembali menjadi tujuan utama, di mana seorang pesulap mendedikasikan dirinya untuk tampil sebaik mungkin di depan penonton.
Pada akhirnya, seni pertunjukan hanya bisa hidup melalui pengalaman langsung antara penampil dan penonton. Tidak ada algoritma yang benar-benar bisa menggantikan momen itu.
Di sisi lain, komunitas sulap juga memegang peranan penting. Komunitas harus kompak, bukan malah terpecah belah. Komunitas yang sehat adalah yang saling mendukung serta menjaga standar dan etika bersama.
Tidak kalah penting lagi, sulap membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia memikirkan masa depan seni sulap, bukan hanya karier individu. Selama masih ada pesulap yang terus berlatih, bereksperimen, dan mencoba menciptakan pengalaman berkesan untuk penonton, nyala api sulap pasti akan kembali membara.
Kadang-kadang momentum itu bisa muncul dari hal yang tak terduga seperti fenomena “Pinsen, Pinsen!” yang saya ceritakan di awal. Kini penonton jadi teringat kembali bahwa sulap adalah pertunjukan yang menyenangkan. Tugas para pesulap sekarang adalah mempertahankan dan meningkatkan ekspektasi tersebut dengan menggelar pertunjukan yang baik secara konsisten.






