Kucing-Kucingku

Tribute untuk semua kucing yang pernah hidup bersama saya.


Artikel ini sudah mangkrak di daftar draft blog sejak 2021, tepat setelah Ndut, salah satu kucing kesayangan saya, tiada. Namun, akhirnya saya lanjutkan lagi karena kejadian serupa kembali terulang.

Sebagai konteks, Ndut adalah satu-satunya anakan kucing yang selamat dari badai virus Calici di rumah. Induk dan saudara-saudaranya sudah terlebih dahulu mati.


Sejak awal masa PSBB Covid-19 di Indonesia, Ndut lah yang selalu menemani hari-hari saya. Sampai akhirnya, ia tiba-tiba lesu dan tidak napsu makan. Hanya butuh beberapa hari bagi virus di tubuhnya menggerogoti kesehatan hingga berujung kematian. Ndut pun pergi di pelukan saya pagi subuh itu. Hampa rasanya.


Sebagai pengobat hati, saya pun mulai memelihara banyak kucing. Maksud hati, kalau suatu hari ada kucing yang pergi dari rumah atau mati, masih ada kucing lainnya.

Sampai di satu titik saya punya lebih dari 20 ekor kucing, dari yang dewasa sampai anakan. Selama beberapa tahun belakangan, sejumlah kucing sangat setia menemani. Mereka tidak pergi, nurut, manja, bahkan seolah paham dengan bahasa manusia. Rasanya sudah seperti teman.

Dengan jumlah sebanyak itu, saya kira tidak akan pernah merasa sedih lagi jika kehilangan kucing. Sempat ada momen berkali-kali kami harus melewati badai virus mematikan lagi. Ujung-ujungnya masih bisa ikhlas. Sedih, tapi ya sudahlah. Akan tetapi, baru-baru ini kucing saya mati empat ekor dengan cara yang benar-benar sadis.

Mereka sengaja diracun oleh seseorang di lingkungan sekitar yang secara blak-blakan mengaku tidak menyukai kucing. Saya tidak tahu kapan mereka makan makanan ‘pancingan’ itu. Pagi kemarin, satu per satu dari mereka tumbang.


Dari gejala awal sampai napas terakhirnya cuma butuh waktu beberapa menit hingga hitungan jam. Hati teriris melihat mereka mati dengan cara yang sama, begitu tersiksa.

Akhirnya kemarin saya merasakan hampa yang sama dengan ketika Ndut mati. Keempatnya adalah kucing-kucing dewasa yang sudah lama bersama keluarga kami. Ada Iput, indukan yang sudah berkali-kali beranak, lalu anaknya yang lucu tapi nakal Ninim, Tino si hitam yang pintar dan lincah, serta Putih kucing dengan suara menggemaskan. Badan mereka terbujur kaku di depan rumah, berjejer.


Seharian saya kehilangan energi, padahal sudah masuk hari pertama kembali bekerja setelah libur Idulfitri. Sesudah menguburkan keempatnya, baru ada sedikit kelegaan walaupun rasanya masih sulit memproses apa yang telah terjadi sepanjang hari itu.



Jiwa memberontak, rasanya ingin melabrak orang yang tertuduh melakukan itu, tetapi tidak ada bukti apapun. Hanya pengalaman tetangga sekitar yang memvalidasi kejadian tersebut, di mana kucing-kucing mereka juga mati diracun oleh pelaku yang sama.

Ketika melihat kucing saya sedang diam, melamun, entah memikirkan apa, pikiran saya jadi mengawang bagaimana kita akan berpisah nantinya karena umur kucing tidak sepanjang itu. Itulah kenapa saya selalu berusaha menghabiskan waktu semenyanangkan mungkin bersama mereka. Bekerja setiap hari untuk membeli makanan mereka menjadi salah satu caranya.

Apapun itu, setidaknya sekarang Iput sudah bisa kembali bermain bersama anak-anaknya yang sudah terlebih dahulu diambil. Tino dan Putih juga bisa bertemu lagi dengan induk mereka. Bermain-mainlah dengan aman di sana sampai saatnya kita berkumpul lagi.

Bagas
Bagas
Penulis artikel SEO & pengarang buku.
Ikuti saya di Instagram @bagasmagic
Link copied to clipboard.