2017-04-29

Rangkaian Unbeaten Terpanjang Setelah Era Ferguson

Foto: dailystar.co.uk

Hasil laga Manchester derby yang berlangsung pada Jumat (28/4) dinihari WIB memang mengecewakan. Manchester United hanya bisa menahan imbang tim tuan rumah dengan skor kacamata. Ditambah lagi jalannya pertandingan lebih dikuasai oleh City, mulai dari penguasaan bola hingga peluang yang dibuat. Beruntung MU masih punya David de Gea di bawah mistar dan Eric Bailly sebagai tembok di lini pertahanan, yang bermain konsisten sepanjang 90 menit pertandingan.



Namun demikian, United telah menunjukkan kalau mereka tetap bisa bermain solid walau tanpa adanya beberapa pemain bintang. Bahkan, di pertandingan tersebut MU juga hanya bermain dengan 10 orang setelah Marouane Fellaini diganjar kartu kuning kedua oleh wasit akibat insidennya dengan Sergio Aguero. Alhasil, The Red Devils gagal menembus posisi empat besar yang sudah di depan mata, walau masih tetap berjarak satu poin saja dari City, yang ada di peringkat empat klasemen sementara.

Terlepas dari apapun hasil dari di laga Manchester derby tersebut, ada satu catatan apik yang diciptakan oleh United. Tim besutan Jose Mourinho itu berhasil melewati 24 pertandingan di liga tanpa menelan kekalahan dalam semusim. Adapun kekalahan terakhir MU di liga adalah saat dibantai Chelsea 4-0 pada Oktober lalu. Catatan ini pun menjadi kali pertama diraih MU, setelah era Sir Alex Ferguson.

Sumber: Squawka

Terakhir kali MU mencapai perolehan serupa adalah di musim 2010/11 silam. Saat itu, rangkaian tak terkalahkan MU di bawah bimbingan Fergie berbuah manis dengan trofi Premier League di akhir musim. Sedangkan Mourinho saat ini malah masih kewalahan membawa timnya untuk menembus peringkat empat besar. Hal itu tak lepas dari terlalu banyaknya hasil imbang yang didapat Wayne Rooney dkk, terutama saat berlaga di kandang.

Keseluruhan, Manchester United sudah memperoleh 13 kali hasil seri sejauh ini di musim 2016/17. Dengan rincian 9 hasil imbang didapat saat bermain di Old Trafford, serta 4 lainnya di laga tandang. Jelas, ini menjadi suatu hal yang sangat mengherankan, di mana selama ini United dikenal sangat kuat jika bermain di Theater of Dream.

Di akhir pekan ini, The Red Devils akan melakoni laga kandang kontra Swansea City. Harusnya kemenangan bisa diraih dengan mudah. Terlebih jika mengingat pada pertemuan pertama kedua tim di musim ini, MU bisa menggilas The Swans dengan skor telak 3-1 di Liberty Stadium. Tapi anomali Old Trafford bisa menjadi penghambat bagi tim asuhan Mourinho untuk meraih poin penuh.

Di satu sisi, kalau pun hasil yang didapat tim tuan rumah adalah seri, setidaknya itu masih melanjutkan rekor tak terkalahkan United di ajang Premier League menjadi 25 pertandingan, yang sekaligus memecahkan rekor klub sepanjang masa.

Sementara itu di kasta tertinggi sepakbola Inggris, rekor tak terkalahkan terpanjang dalam semusim masih dipegang oleh Arsenal. The Gunners melaju 38 pertandingan tanpa tersentuh di musim 2003/04, yang sekaligus menjadi musim terakhir mereka merengkuh gelar juara Premier League. Saat itu, Tim Meriam London sampai mendapat julukan the Invicibles.
Read more

2017-04-23

Issy Simpson, ‘Harry Potter’ di Britain’s Got Talent 2017

Foto: radiotimes.com

Britain’s Got Talent 2017 akhirnya dimulai. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pertama-tama peserta terlebih dahulu akan diaudisi secara offair, sebelum akhirnya lolos ke babak live show. Di setiap musimnya, peserta dengan keahlian sulap pasti selalu mencuri perhatian para juri dan penonton. Bahkan dari dua pekan pertama audisi musim ini saja (yang tayang di TV dan YouTube), sudah ada tiga peserta dengan bakat sulap, yang mendapatkan ‘Yes’ dari juri.

Nah, satu peserta yang paling membuat saya terkesan adalah pesulap cilik bernama Issy Simpson. Anak perempuan ini membawakan permainan sulap bergenre mentalism. Kebetulan, saya juga sangat menyukai sulap jenis ini. Jika Anda melihat videonya, di awal mungkin Anda mengira kalau Issy akan melakukan permainan yang lucu sewajarnya anak-anak. Saya pun demikian, tapi ekspektasi saya kemudian buyar ketika menyaksikan apa yang dilakukan pesulap cilik yang satu ini.


Issy bermain dengan menggunakan tiga buah buku, yang diberikan kepada tiga orang juri. Kemudian salah satu juri, Simon Cowell, diminta untuk memilih satu buku dan memilih halaman tertentu secara bebas. Luar biasanya kata yang terpilih dalam halaman tersebut ternyata sudah diprediksikan oleh Issy pada sebuah papan, yang sejak awal berada di atas panggung.

Nah, menariknya lagi, di tengah-tengah permainan Issy juga sempat meminta Simon untuk mengangkat kotak kardus yang ada di meja juri. Ternyata, Simon dan juri lainnya, David, tidak kuat mengangkat kotak tersebut. Tapi kemudian bisa Issy mengangkat  kotak tersebut dengan mudahnya, dan meninggalkan raut wajah kebingungan dari para juri. Si pesulap cilik lalu sempat meminta Simon untuk memilih satu buah kartu dari dek kartu itu, dan ternyata ia juga sudah memprediksinya dalam kaus yang ia pakai.

Setelah menyaksikan aksi Issy Simpson ini, satu kata yang terlintas di benak saya adalah: brilian! Anak ini bisa mematahkan ekspektasi penonton, yang mungkin tidak akan mengira kalau dia akan memainkan trik yang begitu jenius dan mungkin identik dengan orang dewasa. Presentasinya pun sederhana, mudah dipahami namun dapat membuat semua orang percaya kalau anak ini bak seorang Harry Potter yang mempunyai kekuatan ‘sihir’.

Jujur saja, saya sendiri juga larut dalam permainan Issy dan sama sekali tidak terpikirkan bagiamana dia bisa melakukan itu semua. Kalau dilihat-lihat sejauh ini, mungkin perjalanan Issy di ajang Britain’s Got Talent 2017 ini setidaknya akan sampai ke babak semi final. Tapi dengan usianya yang baru delapan tahun, dengan konsistensinya, maka bukan tidak mungkin masyarakat Britania Raya akan menaruh perhatian spesial padanya dan menjadikannya sebagai juara musim ini. Apalagi pada musim 2016 lalu, juara BGT juga adalah seorang pesulap, bukan?

Nah, kalau kalian penasaran dengan bagaimana aksi Issy Simpson di audisi Britain’s Got Talent 2017, berikut video selengkapnya.

Read more

Faktanya, Paul Pogba adalah Pengumpan Terbaik di Premier League

Foto: mirror.co.uk

Sejak kepulangannya ke Manhcester United, Paul Pogba memang tak pernah lepas dari berbagai kritikan. Hal seperti itu memang sangat lazim dialami oleh seorang pemain yang mempunyai nilai transfer selangit. Akan tetapi, keraguan publik terhadap gelandang asal Prancis ini nampaknya terlalu sering dibesar-besarkan oleh media. Padahal, jika melihat statistik performa Pogba sepanjang musim ini, penampilannya terbilang fantastis.

Nilai transfer Paul Pogba yang tinggi jelas membuat publik berekspektasi sangat tinggi pula terhadap performa Pogba di atas lapangan. Gelontoran gol pun terus dinantikan lahir dari kaki Pogba di setiap pertandingan. Pada kenyataannya Pogba adalah seorang gelandang, yang mana tugas utamanya bukanlah mencetak gol. Walau demikian, sejauh musim ini berjalan setidaknya ia sudah menceploskan tujuh gol di semua ajang.

Akan tetapi ada satu hal yang menarik di tengah kritikan publik yang selalu dialamatkan kepadanya. Pogba berhasil membuktikan diri sebagai pengumpan terbaik di Premier League. Ya, gelandang Manchester United ini memang dikenal mempunyai umpan-umpan akurat dan memanjakan para pemain depan ataupun pemain sayap. Apalagi gocekan serta penguasaan bolanya juga sangat ciamik. Hal itu sangat mendukung pergerakan Pogba saat akan melepas umpan ke rekannya.



Tercatat, Paul Pogba telah mencatatkan umpan sukses dengan jumlah terbanyak dibandingkan pemain Premier League lainnya di musim 2016/17 ini. Pogba sukses melewati catatan Jordan henderson, setelah laga kontra Chelsea akhir pekan lalu (16/4). Berbarengan dengan kemenangan 2-0 yang diraih United atas The Blues di Old Trafford, pemain asal Prancis total telah mencatatkan 2.071 umpan sukses, berbanding 2.057 umpan sukses yang dibuat Henderson.

Dari keseluruhan 28 penampilannya di liga, itu artinya Pogba melepas rata-rata 74 umpan sukses per laga sejak kedatangannya dari Juventus di musim panas 2016 lalu. Jumlah itu pun masih bisa bertambah di akhir pekan ini (23/4), apabila Jose Mourinho memainkan Pogba dalam kunjungan United ke markas Burnley, di Turf Moor Stadium.

Pelayan yang Baik untuk Ibrahimovic dan Rashford


Dari sekian banyak umpan sukses yang dilepaskannya, Pogba berhasil mencatatkan 156 umpan panjang impresif dengan tingkat keakuratan yang tinggi. Ditambah selama ini ia telah melepas 36 umpan silang dan 26 umpan terobosan, yang ditujukkan untuk Zlatan Ibrahimovic dan Marcus Rashford.

Catatan umpan Pogba ini juga menjadi yang terbanyak di Liga Europa, serta menjadi satu dari dua pemain United, yang masuk dalam jajaran lima besar pengumpan terbaik di Premier League, bersama dengan Ander Herrera (1.853 umpan). Selain itu ada pula dua pemain Chelsea, yakni N’Golo Kante (1.899 umpan) dan Cesar Azpilicueta (2.028 umpan).

Dengan membukukan jumlah umpan sukses terbanyak, tujuh gol dan lima assist sepanjang musim ini (sejauh ini), jadi faktanya Paul Pogba layak disebut sebagai pengumpan terbaik di Premier League. Seperti yang pernah dikatakan Jose Mourinho sebelumnya, suatu saat harga mahal Paul Pogba pasti akan terasa sangat murah, mengingat kualitas dan performa apik yang selama ini disuguhkan oleh sang pemain.



Sumber:
ManUtd.com
Transfermarkt.com
Read more

Untung-Rugi Cederanya Rojo dan Ibrahimovic

Foto: mirror.co.uk

Manchester United pada akhirnya berhasil menembus babak semi final Liga Europa 2016/17 setelah menyingkirkan wakil Belgia, RSC Anderlecht dengan skor agregat 3-2. Penarikan undian babak semi final pun telah dilakukan oleh UEFA pada hari Jumat (21/4) lalu, yang mana mempertemukan Manchester United dengan satu-satunya tim Spanyol yang tersisa di Liga Europa, Celta Vigo.

Di satu sisi, MU juga menjadi satu-satunya klub asal Inggris yang tersisa di kompetisi Eropa, setelah Leicester City dipastikan tersingkir dari ajang Liga Champions di babak delapan besar. Namun demikian, kesuksesan MU melaju ke semi final Liga Europa ini pun mesti dibayar mahal dengan cederanya dua pemain kunci mereka. Pada pertandingan leg kedua yang berlangsung di Old Trafford pada Jumat dinihari WIB lalu, Marcos Rojo dan Zlatan Ibrahimovic menjadi ‘tumbal’ kesuksesan United.



Marcos Rojo terlebih dahulu ditarik keluar di babak pertama, setelah mengalami cedera lutut. Sempat kembali bermain setelah mengalami benturan dengan pemain lawan, namun bek asal Argentina itu akhirnya benar-benar tumbang dan lalu digantikan oleh Daley Blind. Setelah keluarnya Rojo, lini belakang MU pun langsung terlihat kurang solid. Alhasil, Sofiane Hanni sukses menceploskan gol penyama kedudukan di babak pertama.

Beruntung, Blind mampu berkoordinasi lebih baik dengan Eric Bailly di babak kedua, hingga pertahanan MU kembali sulit dibongkar oleh lini depan Anderlecht. Ditambah lagi, sepanjang babak kedua MU terus melakukan tekanan dan menciptakan banyak peluang emas.

Tapi di penghujung babak kedua, Zlatan Ibrahimovic malah tertimpa nasib buruk, setelah bomber asal Swedia itu salah mendarat ketika melakukan duel udara. Kaki kanannya tidak menapak ke rumput dengan sempurna, hingga membuatnya langsung terkapar dan mengerang kesakitan. Hal itu terjadi tepat ketika wasit meniupkan peluit tanda berakhirnya 90 menit waktu normal.

Ibrahimovic sempat memperoleh perawatan di atas lapangan, namun kondisinya sangat tidak memungkinkan. Ia pun dipapah oleh tim medis United untuk keluar lapangan. Posisinya saat itu langsung digantikan oleh Anthony Martial.

Dua pemain tersebut pun menyusul menambah panjang catatan cedera pemain MU, karena sebelumnya Phil Jones, Chris Smalling dan Juan Mata, sudah terlebih dahulu menepi karena cedera masing-masing. Diperkirakan ketiganya baru akan kembali pada pertengahan Mei mendatang.

Terkait cederanya Rojo dan Ibrahimovic, Mourinho sebenarnya sempat ragu dan ingin menunggu. Akan tetapi perasannya mengatakan kalau keduanya harus segera diganti. Beruntung, keputusan Mou dengan memasukkan Blind dan Martial bukanlah hal yang salah. Keduanya tetap bermain baik, walau akhirnya MU baru bisa mencuri gol kemenangan di babak kedua extra time lewat manuver yang dilakukan Marcus Rashford.

Terbaru, Rojo dan Ibra dikabarkan harus absen sampai akhir musim. Bahkan khususnya untuk Ibra, ia kemungkinan bakal menepi sampai Januari 2018 mendatang. Itu artinya, MU tidak akan lagi bisa memakai layanan pencetak 28 gol bagi tim untuk mengarungi sisa musim 2016/17 dan separuh musim pertama musim 2017/18 yang akan datang.

Kerugian


Jika dilihat, memang ada sisi untung dan rugi yang bisa diambil dari cederanya dua pemain ini. Tapi mungkin sisi ruginya memang sangatlah besar. Pertama, menepinya Rojo dipastikan bakal menjadi suatu kerugian besar bagi Manchester United saat ini. Pasalnya, Mou tahu betul kalau skuatnya saat ini tengah dilanda krisis bek, terutama untuk pemain-pemain yang berpengalaman. Saat ini hanya tersisa Bailly dan Blind untuk bisa mengisi sektor bek tengah. Walau sebenarnya, Blind bukanlah berposisi asli sebagai bek tengah.

Jika nantinya Mourinho memilih duet Bailly dan Blind untuk mengarungi sisa musim ini, baik di Premier League ataupun Liga Europa, maka ini akan menjadi kombinasi duet bek tengah kesekian yang dijajal The Special One. Bailly dan Blind sebelumnya belum pernah bertandem dalam satu pertandingan liga sebagai bek tengah. Skema ini pun dirasa cukup riskan untuk MU, yang sedang berupaya memperbaiki prestasi mereka di musim ini.



Kerugian lain datang dari menepinya sang bomber andalan, Zlatan Ibrahimovic. Tak dipungkiri, total 28 gol ia buat di semua kompetisi musim ini dan mengukuhkan dirinya menjadi topskorer bagi Manchester United. Ketidakhadiran Ibra di skuat MU pastinya akan sangat terasa dampaknya.

Sementara itu, MU saat ini hanya menyisakan tiga pemain depan, yang secara karakter memang berbeda dengan Ibra. Mereka adalah Wayne Rooney, Martial dan Rashford. Ketiganya sejauh ini belum membuktikan diri mampu menjadi goal getter yang bisa diandalkan Mourinho. Tapi mau tidak mau, Mou harus mengambil keputusan ini.

Keuntungan


Sebenarnya tidak ada keuntungan signifikan yang didapat Manchester United dengan absennya dua pemain andalan mereka itu. Ditambah, tiga pemain yang cedera lainnya juga masih belum bisa tampil. Hanya saja, Mourinho kini mempunyai keuntungan soal pemilihan pemain. Sebelumnya, Mou selalu dibuat pusing mengenai keputusan kapan seorang pemain harus ia mainkan. Bahkan, pemain seperti Memphis Depay dan Morgan Schneiderlin, yang di musim lalu selalu menjadi pilihan utama Louis van Gaal pun sampai harus hengkang ke tim lain akibat sangat jarang menjadi pilihan Mou.



Beberapa pemain muda MU juga demikian. Sejauh ini hanya ada Marcus Rashford, yang banyak mendapat peluang bermain. Sementara bek muda Tim Fosu-Mensah, sangat jarang dimainkan secara reguler. Belakangan, ia beberapa kali hanya menjadi pemain pengganti ‘formalitas’ di menit-menit akhir menjelang laga berakhir. Sungguh miris, mengingat di musim lalu Fosu-Mensah sempat menjadi salah satu pemain muda yang dipercaya penuh oleh Van Gaal, terutama di paruh musim kedua.

Dengan tidak adanya Rojo dan Ibra, beberapa pemain senior yang selama ini lebih sering duduk di bench juga akan mendapat kesempatan bermain. Bukan hanya Blind, tapi tidak menutup kemungkinan Mou akan kembali memercayakan sang kapten, Rooney untuk menjadi starter. Sementara Rashford kemungkinan akan lebih rutin ditempatkan sebagai penyerang sayap dan bertugas memberikan suplai bola matang kepada Rooney.

Belakangan, Rooney memang sering dihubung-hubungkan dengan kepindahnnya ke Everton atau ke Liga Super Tiongkok. Bahkan, legenda Manchester United, Roy Keane sempat mengatakan bahwa era Rooney di MU sudah habis. Hal itu diutarakannya setelah Mourinho lebih memilih menurunkan Martial sebagai pengganti Ibra dalam babak extra time di laga melawan Anderlecht lalu. Keane pun menyebut Rooney harus ‘marah’ kepada Mou, agar ia bisa kembali mendapatkan tempat di tim utama.



Pengalaman Rooney nantinya bisa digunakan untuk mengarungi sisa musim ini, yang mana Manchester United masih harus menjalani banyak laga berat. Bukan hanya semi final dan final (jika lolos) Liga Europa, akan tetapi juga beberapa partai berat di Premier League, seperti menghadapi Manchester City, Tottenham Hotspur dan Arsenal.

Selain itu, Mou juga jadi punya kesempatan lebih banyak untuk mengasah pemain-pemain seperti Rashford, yang secara pengalaman masih belum terlalu matang. Secara keseluruhan, walau tidak bisa disebut ada keuntungan signifikan di balik cederanya Marcos Rojo dan Zlatan Ibrahimovic, setidaknya Jose Mourinho jadi punya pilihan lain dalam meracik timnya. Ia pun bisa membuktikan kalau MU tidak melulu bergantung pada sosok Ibra di lini depan dan Rojo di lini belakang. The Red Devils harus membuktikan kalau mereka juga punya segudang pemain berkualitas, yang tetap bisa menjadi andalan di semua kompetisi.
Read more