Sabtu, 10 Juni 2017

Terima Kasih, Zlatan Ibrahimovic!

Foto: ESPNFC.com

Sepertinya baru kemarin para fans Manchester United merayakan euforia kedatangan seorang raja gol asal Swedia bernama Zlatan Ibrahimovic. Dihadirkan secara cuma-cuma dari Paris Saint-Germain, awalnya Ibra memang diragukan oleh banyak pengamat sepakbola Inggris. Bukan tanpa alasan, mengingat usia sang pemain yang saat itu sudah hampir 35 tahun. Kerasnya kompetisi sepakbola kasta tertinggi di Inggris dinilai akan membuat performanya tidak penuh.

Akan tetapi, para fans United tetap menaruh kepercayaan tinggi kepadanya. Kedatangan Zlatan Ibrahimovic di Kota Manchester pun disambut bak seorang raja. “I came like a king, I left like a legend,” begitu kata Ibrahimovic saat meninggalkan Kota Paris. Kalau Eric Cantona dijuluki sebagai “King of Manchester”, Ibra menyebut dirinya sebagai “God of Manchester”.

Semua yang dikatakan Ibra itu memang tidak berlebihan. Sebab kenyataannya, sepanjang musim 2016/17 Manchester United jadi sangat ketergantungan terhadap kontribusinya. Mengikuti empat kompetisi yang berbeda, peran Ibra begitu krusial bagi The Red Devils. Namun, kini para fans United harus mengucapkan selamat tinggal kepada Ibrahimovic.


Pada Jumat (9/6), Sky Sports mengabarkan kalau manajemen Manchester United tidak akan menawarkan kontrak anyar untuk Zlatan Ibrahimovic. Ya, seperti diketahui, Ibra hanya meneken kontrak sepanjang satu musim saja ketika datang ke Old Trafford awal musim lalu. Sesungguhnya ada opsi perpanjangan selama satu musim lagi dalam kontrak Ibrahimovic. Di bulan November 2016, Mourinho juga telah menyisyaratkan untuk meminta manajemen klub memperpanjang kontraknya.

Tetapi opsi itu kini tidak akan diambil oleh manajemen klub. Penyebabnya tidak lain adalah karena kondisi fisik Ibra. Awalnya memang tidak ada alasan bagi manajemen MU untuk tidak memperpanjang kontrak Ibra. Itu dikarenakan kontribusinya yang begitu besar bagi tim. Namun alur cerita seketika berubah di menit terakhir pertandingan leg kedua babak perempat final Liga Europa kontra RSC Anderlecht di Old Trafford, 21 April 2017 lalu. Ibrahimovic mendapatkan cedera parah pada ligamen lutut kanannya setelah salah mendarat di lapangan.

Ibra pun harus menjalani operasi untuk mempercepat proses pemulihan kakinya. Sayangnya, pemulihan cedera itu tidak bisa secepat yang diharapkan semua pihak. Tim dokter menyatakan Ibrahimovic harus menepi selama kurang lebih sembilan bulan ke depan. Dengan begitu, sang bomber asal Swedia diperkirakan baru bisa kembali ke lapangan hijau saat musim 2017/18 berjalan setengah musim. Manajemen MU pun tak mau mengambil risiko dengan memperpanjang kontrak seorang pemain yang baru bisa ditampilkan pada setengah musim kedua saja. Belum lagi bayaran Ibra juga terbilang besar di MU.

Saat ini kontrak Zlatan Ibrahimovic bersama United hanya tersisa sampai akhir bulan Juni saja. Setelah itu ia akan kembali berstatus bebas transfer. Agen sang pemain, Mino Raiola sempat menyampaikan kalau Ibra akan tetap berkarier di Eropa. Tapi belum jelas klub mana yang akan jadi pelabuhan baru Ibra.

Kabar mengenai MU yang melepas Ibra ini sendiri juga disampaikan oleh website resmi Premier League. Mereka merilis daftar pemain yang dilepas oleh klub-klub kontestan Premier League musim 2016/17. Pada bagian Manchester United, tertulis nama Zlatan Ibrahimovic di sana. Dengan begitu, selesai sudah perjalanan Ibra bersama United. Para fans pun berbondong-bondong mengucapkan terima kasih kepada ‘Sang Raja’.

Kontribusi Zlatan Ibrahimovic untuk MU


Zlatan Ibrahimovic mengawali kariernya di MU dengan cemerlang. Dalam pertandingan pramusim menghadapi Galatasaray, Ibrahimovic diturunkan sebagai starter oleh Jose Mourinho di partai debutnya. Hanya butuh waktu kurang dari empat menit bagi Ibra untuk membuka rekening golnya bagi Setan Merah. Itu pun dibuat dengan sebuah bicycle kick.

Foto: Skysports.com

Setelahnya, posisi Ibra nyaris tak tergantikan di ajang Premier League. Hanya hukuman dari FA dan cedera yang membuatnya tidak dimainkan oleh Mourinho. Secara keseluruhan Ibra bermain 28 kali di liga dengan total 2.437 menit bermain. Jika dijumlahkan di semua kompetisi, mantan penyerang Paris Saint-Germain itu bermain sebanyak 46 kali dari keseluruhan 64 laga yang dimainkan MU sepanjang musim 2016/17.

Jumlah gol yang dilesakkan Zlatan Ibrahimovic sepanjang berseragam Manchester United pun tidak sedikit. Ia memimpin daftar topskorer bagi United di semua ajang dengan torehan 28 gol. Rinciannya 17 gol di Premier League, 5 di Liga Europa, 4 di Piala Liga Inggris, 1 di Piala FA, dan 1 di Community Shield. Jumlah itu dilengkapi dengan torehan 10 assist yang ia kreasikan di semua pertandingannya.

Meski gagal menjuarai Premier League, namun MU telah diantarkan Ibrahimovic meraih beberapa gelar. Bisa dibilang mini treble. Di awal musim, satu gol Ibrahimovic menjadi penentu kemenangan Setan Merah atas Leicester City di ajang Community Shield. Trofi ‘formalitas’ yang diperebutkan oleh juara Premier League dan Piala FA pada musim sebelumnya itu pun jatuh ke tangan United untuk ke-21 kalinya.

Kembali tampil di Wembley, Ibra kembali menjadi pahlawan bagi United pada pertandingan final Piala Liga Inggris kontra Southampton. Mencetak gol pembuka dan penentu kemenangan, Ibra mengusung MU menang 3-2 atas Soton. Ia pun mengangkat trofi ke-32 dalam kariernya di ajang tersebut. Walau menjadi kompetisi kelas tiga bagi klub papan atas di Inggris, tapi lebih baik ketimbang tidak mendapat satu pun trofi domestik, ‘kan?

Musim Ibrahimovic sebenarnya nyaris sempurna andai ia ikut bermain di final Liga Europa. Sayangnya, cedera mengubah semua rencana. Padahal, partai final tersebut digelar di ‘rumah’ Ibrahimovic sendiri, di Friends Arena, Stockholm, Swedia, serta melawan mantan timnya, Ajax Amsterdam. Meski tampil tanpa sang bintang, United tetap bisa memenangkan laga dengan skor 2-0. Ibrahimovic pun tetap dikalungi medali dan bisa mengangkat trofi seberat 15 kilogram di hadapan para pendukung Manchester United dan publik Swedia.

Ketika beberapa pemain cedera yang lain seperti Marcos Rojo dan Ashley Young tertatih dengan memakai tongkat mereka untuk berjalan ke dalam lapangan, Ibra melepas tongkatnya dan berjalan terpincang-pincang sambil tersenyum lebar untuk memeluk rekan-rekannya di dalam lapangan. Ia juga mengangkat trofi Liga Europa seberat 15 kilogram itu dengan satu tangannya. Gelar Liga Europa ini pun menjadi gelar juara Eropa pertama yang diraih Zlatan Ibrahimovic sepanjang karier. Sayangnya, itu ternyata menjadi momen terakhir Ibra bersama The Red Devils.

Foto: Goal.com

Saat ini kabarnya Manchester United sudah menyiapkan beberapa nama sebagai pengganti Zlatan Ibrahimovic. Meski mempunyai pemain seperti Marcus Rashford di skuat, tapi sang ‘Singa Muda’ disebut-sebut membutuhkan partner untuk membimbingnya. Awalnya MU sudah sangat dekat untuk mendatangkan penyerang Atletico Madrid, Antoine Griezmann. Tapi peluang itu tertutup lantaran sang pemain memutuskan untuk tetap tinggal di klub. Sanksi larangan transfer pemain dari FIFA menjadi alasan Griezmann berkomitmen dulu dengan klubnya, setidaknya sampai musim depan.

Kemudian ada tiga nama kandidat lainnya, yaitu Andrea Belotti, Romelu Lukaku dan Alvaro Morata. Menurut kabar terbaru, Morata menjadi yang paling berpeluang untuk bergabung ke MU. Disebut-sebut kalau sang pemain sudah sepakat untuk gabung ke MU dan bekerja bersama Jose Mourinho. Kini hanya tinggal menunggu kesepakatan soal nilai transfer Morata dari kedua kesebelasan.

Terima kasih, Zlatan Ibrahimovic!

"Wherever I went I won, so I am like Indiana Jones."
- Zlatan Ibrahimovic

Simak cuplikan 28 gol Zlatan Ibrahimovic untuk Manchester United.

Read more

Kamis, 18 Mei 2017

Pertarungan Dua Monster yang Terluka

Foto: UEFA.com
Satu trofi Liga Europa ‘berhadiah’ satu tiket lolos langsung ke babak utama Liga Champions akan diperebutkan ‘dua monster yang terluka’. Ya, dua tim finalis Liga Europa 2016/17, yakni Ajax dan Manchester United, saat ini sedang tidak dalam kondisi yang baik di liga masing-masing. Akan tetapi, justru hal tersebut yang diperkirakan bakal menjadikan pertarungan puncak, pada Kamis (25/5) pekan depan semakin seru.

Ajax di musim ini sebenarnya berpeluang menjadi juara Eredivisie. Seandainya mereka berhasil mewujudkan target tersebut, beban untuk menjuarai Liga Europa setidaknya akan lebih ringan. Pasalnya, juara Eredivisie akan otomatis lolos ke fase grup Liga Champions musim berikutnya. Akan tetapi, Kasper Dolberg dkk. harus menerima kenyataan pahit di pekan terakhir kasta tertinggi liga Belanda itu.

Persaingan gelar juara Eredivisie harus ditentukan hingga pertandingan terakhir, dengan menyisakan Feyenoord dan Ajax sebagai kompetitornya. Memasuki pekan ke-34 lalu, Feyenoord hanya memimpin satu angka di belakang Ajax dengan 79 poin. Ajax pun membutuhkan tiga poin di pertandingan terakhir mereka, sambil berharap Feyenoord terpeleset di laga pamungkas mereka. Namun hal yang terjadi justru sebaliknya.

Di laga terakhir melawan Willem II, Ajax memang meraih kemenangan 1-3. Di satu sisi, Feyenoord ternyata juga sukses berpesta di markas sendiri dengan skor 3-1 atas Heracles. Alhasil, di klasemen akhir Feyenoord tetap unggul satu angka dari Ajax dan mengukuhkan diri sebagai juara Eredivisie 2016/17. Ajax, yang finis kedua di klasemen akhir pun ‘hanya’ mengantongi tiket untuk tampil di Liga Champions lewat babak play-off.



Dengan kondisi ini, Ajax dipastikan bakal menghadapi partai puncak Liga Europa dengan kondisi ‘marah’ dan pastinya akan mengerahkan seluruh kemampuan terbaik mereka, beramunisikan para penggawa muda. Ini jelas menjadi sinyal peringatan bahaya bagi Manchester United, yang kondisinya justru lebih mengkhawatirkan di liga.

Bagaimana tidak, United benar-benar kehilangan tajinya di pentas Premier League. Setelah membuat rekor tak terkalahkan sepanjang 25 pertandingan di liga, mereka langsung tumbang di dua laga terakhir secara beruntun dari Arsenal dan Tottenham Hotspur. Dua kekalahan itu terjadi setelah The Red Devils mengalahkan Celta Vigo dengan agregat 2-1 di Old Trafford dan mengamankan satu tiket final Liga Europa.

Jose Mourinho kemudian langsung mengambil tindakan dengan menyimpan pilar-pilar utamanya pada sisa pertandingan Premier League. Dengan tujuan, agar timnya bisa tetap prima di laga final Liga Europa nanti. Alhasil, di dua laga tandang kontra Arsenal dan Tottenham, Setan Merah tampil dengan skuat seadanya.

Sayangnya, perjudian ini tidak berjalan mulus. Mourinho harus membayar mahal pilihannya itu dengan benar-benar mengorbankan peringkat empat besar liga. Saat ini, United sudah tidak berkesempatan lagi menembus peringkat empat besar. Namun, MU yang kini bertengger di peringkat keenam klasemen setidaknya sudah aman dari kejaran tim-tim di bawah mereka.



“Tim seperti Manchester United memang seharusnya mementingkan trofi ketimbang hanya mengejar empat besar,” begitu kata Mourinho dalam salah satu pernyataannya.

Secara historis, pernyataan itu ada benarnya juga. Manchester United memang sangat identik dengan gelar juara. Trend mengejar empat besar pun baru terjadi setidaknya dalam empat musim terakhir. Saat ini Mou tengah berusaha untuk membangun kembali kejayaan United yang sempat runtuh. Salah satu jalannya adalah dengan menjuarai Liga Europa. Secara sistematis, Liga Europa saat ini juga menjadi satu-satunya jalan MU menuju ke Liga Champions musim depan, setelah gagal total di liga.

Tapi yang kini menjadi kesangsian, bagaimana kalau seandainya United kalah dari Ajax di final Liga Europa? Alih-alih ingin meraih trofi dan bermain di Liga Champions musim depan, MU malah bisa saja kembali harus berkutat di ‘Liga Malam Jumat’.

Pertemuan Ajax vs Manchester United di babak 32 besar Liga Europa, 16 Februari 2012 di Amsterdam Arena. Foto: Jasper Juinen/Getty Images.

Di luar dari semua itu, jika mengambil sisi positif dari kondisi Ajax dan Manchester United saat ini, harusnya keseruan laga final di Liga Europa tidak akan berkurang dan sama panasnya dengan persaingan di final Liga Champions antara Real Madrid dan Juventus. Apalagi, dua finalis Liga Europa ini juga bak Monster yang mempunyai sejarah besar, baik di ajang domestik maupun di kancah Eropa.

Ajax mengoleksi 33 gelar juara Eredivisie, 4 gelar Piala/Liga Champions dan 1 gelar Liga Europa. Sementara MU mempunyai 20 gelar juara divisi teratas liga Inggris dan 3 Piala/Liga Champions. Keduanya sama-sama mempunyai cerita manis di liga maupun di Eropa.

Untuk itu, walau hanya memperebutkan trofi kompetisi antarklub kelas dua di Eropa, tapi dengan berbagai fakta dan statistik yang telah disajikan tadi, dua monster yang terluka ini sepertinya akan tetap menyuguhkan sebuah pertarungan dengan pertaruhan gengsi yang besar demi pencapaian prestasi tertinggi.

Fakta Unik:

  • Pertemuan kedua tim di laga final ini sangat emosional karena Ajax merupakan bekas klub Zlatan Ibrahimovic di masa mudanya. Sayangnya, Zlatan tidak bisa tampil di final karena cedera lutut parah yang dialaminya beberapa waktu lalu. 
  • Kiper legendaris MU, Edwin van der Sar, juga merupakan legenda klub Ajax dan saat ini menjadi salah satu pejabat di tim tersebut. 
  • Laga akan digelar di Friends Arena di Stockholm, Swedia, stadion yang mempunyai patung Zlatan Ibrahimovic di dalamnya.
Patung Zlatan Ibrahimovic. Foto: irishmirror.ie.
Read more

Senin, 08 Mei 2017

Empat Besar atau Sudahi Puasa 40 Tahun, Mou?

Foto: ESPNFC.com
Manchester United mendapatkan hasil buruk kala bertandang ke Emirates Stadium, markas Arsenal, dalam lanjutan pekan ke-36 Premier League, hari Minggu (8/5) malam WIB. The Red Devils takluk dua gol tanpa balas, lewat gol Granit Xhaka (54’) dan gol sang mantan, Danny Welbeck (57’). Hasil ini pun semakin memperkecil peluang United untuk bisa finis di peringkat empat besar pada klasemen akhir.

Kini, United bertengger di peringkat kelima dengan perolehan 65 angka dari 35 laga. Mereka hanya terpaut dua angka dari Arsenal di peringkat keenam, yang baru memainkan 34 laga. Itu artinya jika di laga ke-35 The Gunners berhasil meraih poin penuh, Mesut Ozil dkk. tentu bisa menyalip MU. Kondisi ini tak pelak membuat para fans Setan Merah bergejolak.

Sumber: Google
Ada hasrat untuk terus memperjuangkan posisi empat besar di klasemen liga. Tapi, MU juga harus mencurahkan konsentrasi penuh demi mencapai gelar juara Liga Europa. Ya, saat ini MU memang masih punya dua cara untuk bisa memperoleh tiket ke Liga Champions musim depan. Selain dengan finis empat besar di liga, MU juga bisa mendapatkan tiket UCL dengan menjuarai Liga Europa. Untuk saat ini, cara kedua dinilai lebih realistis.

Jika melihat pertandingan melawan Arsenal, dapat dilihat kalau Jose Mourinho sepertinya memang sudah ‘menyerah’ untuk mengejar empat besar di Premier League. Hal itu ditunjukkan dengan tidak dimainkannya beberapa pemain kunci seperti Eric Bailly, Antonio Valencia, Paul Pogba, hingga Marcus Rashford. Nama terakhir baru masuk di menit ke-63.



Mourinho juga memainkan bek muda, Axel Tuanzebe selama 90 menit penuh. Begitu pula dengan pemain debutan, Scott McTominay, yang masuk menggantikan Juan Mata di menit ke-84. Karakter menyerang United seperti biasanya tidak terlalu tampak di laga tersebut. Beberapa peluang emas pun terbuang sia-sia karena tidak adanya finisher yang mumpuni. Wayne Rooney, pemain yang paling banyak melepas tendangan ke arah gawang (6), bahkan sama sekali tidak bisa menjebol gawang Arsenal yang dikawal Petr Cech.

Sebelum laga melawan Arsenal, Mourinho sebenarnya juga sudah memberikan sebuah tanda mengenai perjalanan Manchester United di sisa musim ini.

“Kami akan mencoba. Tentunya kami tidak akan meminta mereka (Arsenal) untuk mengalahkan kami. Kami datang ke sini untuk memperjuangkan hasil,” kata Mourinho dalam konferensi pers sebelum pertandingan.

“Tapi itu sepertinya sulit diwujudkan. Saya tidak bisa memainkan tim yang sama di sini dengan di hari Kamis nanti (melawan Celta Vigo).”

“Saya kira, laga terakhir melawan Swansea City menjadi peluang terakhir kami untuk memperjuangkan posisi empat besar. Jadi, saya memilih untuk mengistirahatkan pemain,” ujarnya.



Hal tersebut seolah mengamini perkiraan kalau Manchester United memang benar-benar mengorbankan salah satu dari dua kompetisi yang masih mereka ikuti saat ini, yaitu Premier League. MU pastinya akan betul-betul berjuang di laga semi final leg kedua Liga Europa kontra Celta di Old Trafford pada Jumat (11/5) dinihari WIB. Maklum saja, ini adalah satu-satunya ajang yang belum pernah dimenangi oleh MU selama 40 tahun keikutsertaan mereka. Dalam delapan edisi yang diikuti The Red Devils, pencapaian di musim ini pun menjadi yang terbaik.

MU telah berada di babak semi final saat ini dan sukses memenangkan leg pertama kontra Celta Vigo dengan skor 1-0. Leg kedua akan berlangsung di Old Trafford, serta seharusnya tidak sulit bagi United untuk mengamankan keunggulan atau bahkan menambahnya.

Untuk susunan pemain sendiri, sudah dipastikan kalau di laga melawan Celta nanti MU akan kembali tampil full team. Tentunya minus Marcos Rojo dan Zlatan Ibrahimovic. Kabar baiknya, semua pemain yang cedera kecuali dua nama barusan sudah pulih dan bisa ditampilkan. Phil Jones dan Chris Smalling sudah bermain selama 90 menit di laga kontra Arsenal. Begitu pula dengan Mata, yang juga dipasang sebagai starter. Ada kemungkinan tiga pemain tersebut tidak akan menjadi starter pada pertandingan tengah pekan ini. Berikut adalah perkiraan susunan pemain Manchester United untuk menghadapi Celta Vigo, pada 11 Mei mendatang.



Jadi, kalau Mourinho ditanya “haruskah korbankan satu (PL atau UEL), Mou?” Pelatih berjuluk The Special One itu pastinya akan menjawab dengan mantap: “Ya, dan itu adalah Premier League.”
Read more

Selasa, 02 Mei 2017

Krisis Besar United Jelang Akhir Musim

Foto: Manchester Evening News
Manchester United baru saja memecahkan rekor klub, dengan menjalani 25 pertandingan beruntun di Premier League tanpa terkalahkan dalam satu musim. Mengalahkan rekor sebelumnya, yakni 24 pertandingan tak terkalahkan, saat United masih ditangani Sir Alex Ferguson pada musim 2010/11 lalu. Sementara itu, musim 2016/17 masih menyisakan empat pertandingan lagi bagi Setan Merah. Mereka juga masih harus melakoni dua leg pertandingan kontra Celta Vigo di semi final Liga Europa. Namun, menuju akhir musim krisis besar justru melanda tim besutan Jose Mourinho ini.

Bagaimana tidak, mendekati laga leg pertama semi final Liga Europa pada Jumat (5/5) dinihari WIB, MU masih harus kehilangan setidaknya delapan pemain mereka harus absen akibat cedera. Terbaru, Luke Shaw dan Eric Bailly menambah panjang daftar cedera pemain United dalam pertandingan kontra Swansea City di Old Trafford, pada Minggu (30/4) malam WIB.



Keduanya mengalami cedera engkel dan belum dipastikan kapan keduanya akan kembali. Mourinho pun merasa cemas terutama dengan cedera yang dialami Shaw. Hanya bertahan selama 10 menit di lapangan, Mou merasa kalau cedera yang dialami pemainnya itu memang sangat buruk.

Lini pertahanan pun menjadi yang paling keropos bagi Manchester United saat ini. Praktis hanya Daley Blind, bek tengah senior yang tersisa dan siap untuk dimainkan di laga kontra Celta Vigo tengah pekan ini. Pasalnya, sebelum Bailly, Marcos Rojo, Phil Jones dan Chris Smalling sudah terlebih dahulu menepi akibat cedera. Ditambah dengan tidak adanya Tim Fosu-Mensah dan Luke Shaw, yang makin menambah lengkap daftar cedera bek United.



Sejatinya, posisi Blind adalah seorang gelandang. Ia juga lebih sering diplot sebagai bek kiri ketimbang bek tengah. Tapi setidaknya dalam tiga laga terakhir yang dijalani United, Blind membuktikan ketangguhannya menjaga kedalaman pertahanan timnya saat diduetkan dengan Bailly.

Beruntung, semakin parahnya krisis di lini belakang MU tidak diikuti dengan krisis pemain di lini tengah, yang perlahan mulai membaik. Gelandang asal Spanyol, Juan Mata sudah pulih dari cederanya dan telah berada dalam skuat United di laga kontra Swansea lalu. Walau, pada akhirnya Mata hanya duduk di bangku cadangan.

Tapi, setelah laga tersebut Mata tampak melakukan sesi latihan khusus bersama seorang pelatih di atas lapangan Old Trafford. Laga kontra Celta di Liga Europa pun diharapkan menjadi momentum comeback bagi Mata. Duet Juan-Der (Mata dan Ander Herrera) atau Micky-Mata pun sangat dinanti-nantikan para fans The Red Devils.



Di sisi lain, gelandang MU lainnya, Paul Pogba, juga diprediksi akan kembali bermain di partai semi final leg pertama Liga Europa kelak. Hal itu diungkapkan sendiri oleh Mourinho, yang juga sengaja menyimpan Pogba pada laga melawan Swansea, agar bisa fit sepenuhnya saat United berkunjung ke markas Celta Vigo di Spanyol.

Sementara untuk ajang domestik, Manchester United masih belum bisa menurunkan Marouane Fellaini dalam dua pertandingan ke depan atau saat menghadapi Arsenal dan Tottenham Hotspur. Gelandang asal Belgia itu terkena sanksi larangan bertanding di tiga laga karena kartu merah yang didapat saat melawan Manchester City tengah pekan lalu.

Terlepas dari itu semua, ternyata badai cedera tidak hanya terjadi di tim senior Manchester United saja, tapi juga terjadi di tim U-23 dan U-18. Total ada 22 pemain MU di semua level yang absen karena cedera atau sanksi. Berikut daftar selengkapnya.


Read more

Sabtu, 29 April 2017

Rangkaian Unbeaten Terpanjang Setelah Era Ferguson

Foto: dailystar.co.uk
Hasil laga Manchester derby yang berlangsung pada Jumat (28/4) dinihari WIB memang mengecewakan. Manchester United hanya bisa menahan imbang tim tuan rumah dengan skor kacamata. Ditambah lagi jalannya pertandingan lebih dikuasai oleh City, mulai dari penguasaan bola hingga peluang yang dibuat. Beruntung MU masih punya David de Gea di bawah mistar dan Eric Bailly sebagai tembok di lini pertahanan, yang bermain konsisten sepanjang 90 menit pertandingan.



Namun demikian, United telah menunjukkan kalau mereka tetap bisa bermain solid walau tanpa adanya beberapa pemain bintang. Bahkan, di pertandingan tersebut MU juga hanya bermain dengan 10 orang setelah Marouane Fellaini diganjar kartu kuning kedua oleh wasit akibat insidennya dengan Sergio Aguero. Alhasil, The Red Devils gagal menembus posisi empat besar yang sudah di depan mata, walau masih tetap berjarak satu poin saja dari City, yang ada di peringkat empat klasemen sementara.

Terlepas dari apapun hasil dari di laga Manchester derby tersebut, ada satu catatan apik yang diciptakan oleh United. Tim besutan Jose Mourinho itu berhasil melewati 24 pertandingan di liga tanpa menelan kekalahan dalam semusim. Adapun kekalahan terakhir MU di liga adalah saat dibantai Chelsea 4-0 pada Oktober lalu. Catatan ini pun menjadi kali pertama diraih MU, setelah era Sir Alex Ferguson.

Sumber: Squawka
Terakhir kali MU mencapai perolehan serupa adalah di musim 2010/11 silam. Saat itu, rangkaian tak terkalahkan MU di bawah bimbingan Fergie berbuah manis dengan trofi Premier League di akhir musim. Sedangkan Mourinho saat ini malah masih kewalahan membawa timnya untuk menembus peringkat empat besar. Hal itu tak lepas dari terlalu banyaknya hasil imbang yang didapat Wayne Rooney dkk, terutama saat berlaga di kandang.

Keseluruhan, Manchester United sudah memperoleh 13 kali hasil seri sejauh ini di musim 2016/17. Dengan rincian 9 hasil imbang didapat saat bermain di Old Trafford, serta 4 lainnya di laga tandang. Jelas, ini menjadi suatu hal yang sangat mengherankan, di mana selama ini United dikenal sangat kuat jika bermain di Theater of Dream.

Di akhir pekan ini, The Red Devils akan melakoni laga kandang kontra Swansea City. Harusnya kemenangan bisa diraih dengan mudah. Terlebih jika mengingat pada pertemuan pertama kedua tim di musim ini, MU bisa menggilas The Swans dengan skor telak 3-1 di Liberty Stadium. Tapi anomali Old Trafford bisa menjadi penghambat bagi tim asuhan Mourinho untuk meraih poin penuh.

Di satu sisi, kalau pun hasil yang didapat tim tuan rumah adalah seri, setidaknya itu masih melanjutkan rekor tak terkalahkan United di ajang Premier League menjadi 25 pertandingan, yang sekaligus memecahkan rekor klub sepanjang masa.

Sementara itu di kasta tertinggi sepakbola Inggris, rekor tak terkalahkan terpanjang dalam semusim masih dipegang oleh Arsenal. The Gunners melaju 38 pertandingan tanpa tersentuh di musim 2003/04, yang sekaligus menjadi musim terakhir mereka merengkuh gelar juara Premier League. Saat itu, Tim Meriam London sampai mendapat julukan the Invicibles.
Read more

Minggu, 23 April 2017

Issy Simpson, ‘Harry Potter’ di Britain’s Got Talent 2017

Foto: radiotimes.com
Britain’s Got Talent 2017 akhirnya dimulai. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pertama-tama peserta terlebih dahulu akan diaudisi secara offair, sebelum akhirnya lolos ke babak live show. Di setiap musimnya, peserta dengan keahlian sulap pasti selalu mencuri perhatian para juri dan penonton. Bahkan dari dua pekan pertama audisi musim ini saja (yang tayang di TV dan YouTube), sudah ada tiga peserta dengan bakat sulap, yang mendapatkan ‘Yes’ dari juri.

Nah, satu peserta yang paling membuat saya terkesan adalah pesulap cilik bernama Issy Simpson. Anak perempuan ini membawakan permainan sulap bergenre mentalism. Kebetulan, saya juga sangat menyukai sulap jenis ini. Jika Anda melihat videonya, di awal mungkin Anda mengira kalau Issy akan melakukan permainan yang lucu sewajarnya anak-anak. Saya pun demikian, tapi ekspektasi saya kemudian buyar ketika menyaksikan apa yang dilakukan pesulap cilik yang satu ini.


Issy bermain dengan menggunakan tiga buah buku, yang diberikan kepada tiga orang juri. Kemudian salah satu juri, Simon Cowell, diminta untuk memilih satu buku dan memilih halaman tertentu secara bebas. Luar biasanya kata yang terpilih dalam halaman tersebut ternyata sudah diprediksikan oleh Issy pada sebuah papan, yang sejak awal berada di atas panggung.

Nah, menariknya lagi, di tengah-tengah permainan Issy juga sempat meminta Simon untuk mengangkat kotak kardus yang ada di meja juri. Ternyata, Simon dan juri lainnya, David, tidak kuat mengangkat kotak tersebut. Tapi kemudian bisa Issy mengangkat  kotak tersebut dengan mudahnya, dan meninggalkan raut wajah kebingungan dari para juri. Si pesulap cilik lalu sempat meminta Simon untuk memilih satu buah kartu dari dek kartu itu, dan ternyata ia juga sudah memprediksinya dalam kaus yang ia pakai.

Setelah menyaksikan aksi Issy Simpson ini, satu kata yang terlintas di benak saya adalah: brilian! Anak ini bisa mematahkan ekspektasi penonton, yang mungkin tidak akan mengira kalau dia akan memainkan trik yang begitu jenius dan mungkin identik dengan orang dewasa. Presentasinya pun sederhana, mudah dipahami namun dapat membuat semua orang percaya kalau anak ini bak seorang Harry Potter yang mempunyai kekuatan ‘sihir’.

Jujur saja, saya sendiri juga larut dalam permainan Issy dan sama sekali tidak terpikirkan bagiamana dia bisa melakukan itu semua. Kalau dilihat-lihat sejauh ini, mungkin perjalanan Issy di ajang Britain’s Got Talent 2017 ini setidaknya akan sampai ke babak semi final. Tapi dengan usianya yang baru delapan tahun, dengan konsistensinya, maka bukan tidak mungkin masyarakat Britania Raya akan menaruh perhatian spesial padanya dan menjadikannya sebagai juara musim ini. Apalagi pada musim 2016 lalu, juara BGT juga adalah seorang pesulap, bukan?

Nah, kalau kalian penasaran dengan bagaimana aksi Issy Simpson di audisi Britain’s Got Talent 2017, berikut video selengkapnya.


Read more

Faktanya, Paul Pogba adalah Pengumpan Terbaik di Premier League

Foto: mirror.co.uk
Sejak kepulangannya ke Manhcester United, Paul Pogba memang tak pernah lepas dari berbagai kritikan. Hal seperti itu memang sangat lazim dialami oleh seorang pemain yang mempunyai nilai transfer selangit. Akan tetapi, keraguan publik terhadap gelandang asal Prancis ini nampaknya terlalu sering dibesar-besarkan oleh media. Padahal, jika melihat statistik performa Pogba sepanjang musim ini, penampilannya terbilang fantastis.

Nilai transfer Paul Pogba yang tinggi jelas membuat publik berekspektasi sangat tinggi pula terhadap performa Pogba di atas lapangan. Gelontoran gol pun terus dinantikan lahir dari kaki Pogba di setiap pertandingan. Pada kenyataannya Pogba adalah seorang gelandang, yang mana tugas utamanya bukanlah mencetak gol. Walau demikian, sejauh musim ini berjalan setidaknya ia sudah menceploskan tujuh gol di semua ajang.

Akan tetapi ada satu hal yang menarik di tengah kritikan publik yang selalu dialamatkan kepadanya. Pogba berhasil membuktikan diri sebagai pengumpan terbaik di Premier League. Ya, gelandang Manchester United ini memang dikenal mempunyai umpan-umpan akurat dan memanjakan para pemain depan ataupun pemain sayap. Apalagi gocekan serta penguasaan bolanya juga sangat ciamik. Hal itu sangat mendukung pergerakan Pogba saat akan melepas umpan ke rekannya.



Tercatat, Paul Pogba telah mencatatkan umpan sukses dengan jumlah terbanyak dibandingkan pemain Premier League lainnya di musim 2016/17 ini. Pogba sukses melewati catatan Jordan henderson, setelah laga kontra Chelsea akhir pekan lalu (16/4). Berbarengan dengan kemenangan 2-0 yang diraih United atas The Blues di Old Trafford, pemain asal Prancis total telah mencatatkan 2.071 umpan sukses, berbanding 2.057 umpan sukses yang dibuat Henderson.

Dari keseluruhan 28 penampilannya di liga, itu artinya Pogba melepas rata-rata 74 umpan sukses per laga sejak kedatangannya dari Juventus di musim panas 2016 lalu. Jumlah itu pun masih bisa bertambah di akhir pekan ini (23/4), apabila Jose Mourinho memainkan Pogba dalam kunjungan United ke markas Burnley, di Turf Moor Stadium.

Pelayan yang Baik untuk Ibrahimovic dan Rashford


Dari sekian banyak umpan sukses yang dilepaskannya, Pogba berhasil mencatatkan 156 umpan panjang impresif dengan tingkat keakuratan yang tinggi. Ditambah selama ini ia telah melepas 36 umpan silang dan 26 umpan terobosan, yang ditujukkan untuk Zlatan Ibrahimovic dan Marcus Rashford.

Catatan umpan Pogba ini juga menjadi yang terbanyak di Liga Europa, serta menjadi satu dari dua pemain United, yang masuk dalam jajaran lima besar pengumpan terbaik di Premier League, bersama dengan Ander Herrera (1.853 umpan). Selain itu ada pula dua pemain Chelsea, yakni N’Golo Kante (1.899 umpan) dan Cesar Azpilicueta (2.028 umpan).

Dengan membukukan jumlah umpan sukses terbanyak, tujuh gol dan lima assist sepanjang musim ini (sejauh ini), jadi faktanya Paul Pogba layak disebut sebagai pengumpan terbaik di Premier League. Seperti yang pernah dikatakan Jose Mourinho sebelumnya, suatu saat harga mahal Paul Pogba pasti akan terasa sangat murah, mengingat kualitas dan performa apik yang selama ini disuguhkan oleh sang pemain.



Sumber:
ManUtd.com
Transfermarkt.com
Read more